KH. Abdul Mu’thi: Pengusaha Bertangan Dingin, Aktivis, dan Guru Ngaji Sukarno Kecil

Abdul Mu’thi dan Soekeni

Menurut kajian akademisi Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Prof. Tadjoer Rizal, Kiai Abdul Mu’thi juga punya kedekatan dengan Raden Soekeni Sosrodiharjo, ayah Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno.

Perkenalan mereka bermula ketika Soekeni, yang berprofesi sebagai guru, pindah tugas dari Kota Surabaya ke Ploso pada akhir tahun 1901. Kepindahan itu berdasarkan beselit Belanda yang terbit Desember 1901. Dokumen tersebut masih ada sampai sekarang. Ketika itu Ploso masuk dalam wilayah Karesidenan Surabaya.

Bacaan Lainnya

Soekeni pindang ke Ploso bersama istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai. Di Ploso inilah, menurut beberapa dokumen sejarah, bayi Kusno—yang di kemudian hari berubah nama menjadi Sukarno—lahir. Kelahiran Kusno atau Sukarno di Ploso ini dibuktikan dengan dua dokumen, yaitu dokumen pendaftaran Sukarno ke Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tulisan tangan Raden Soekeni.

Pada dokumen pendaftaran ITB disebutkan bahwa Sukarno lahir pada tanggal 6 Juni 1902—bukan tahun 1901 sebagaimana disepakati oleh jumhur sejarawan. Tanggal di dokumen ITB tersebut terkonfirmasi oleh data berupa tulisan tangan Raden Soekeni Sosrodiharjo, yang menuliskan bahwa Sukarno lahir 6 Juni 1902, bukan 6 Juni 1901.

Data beselit kepindahan Soekeni dari Kota Surabaya ke Ploso juga pernah dibukukan oleh beberapa profesor dalam buku Ida Ayu Nyoman Rai Ibu Bangsa yang terbit tahun 2012. Salah satu profesor yang menulis buku itu adalah Prof. Tadjoer Rizal.

Sesuai dengan hasil kajian tersebut, Sukarno disimpulkan tinggal di Ploso hingga usia antara 6-7 tahun. Setelah itu dia dibawa orang tuanya pindah ke Mojokerto.

Hubungan Soekeni—yang digambarkan sebagai penganut aliran Kejawen—dengan Islam berlangsung cepat dan intens selama di Ploso. Ida Ayu juga tidak canggung berinteraksi dengan masyarakat Islam di sana.

Bahkan, beredar juga informasi yang menyebutkan bahwa Soekeni sempat berbaiat Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah kepada Kiai Muntoho—guru tasawuf Kiai Abdul Mu’thi.  Sementara itu, Ida Ayu dikisahkan bersahabat dekat dengan Nyai Nasikhah, istri kedua Kiai Abdul Mu’thi.

Menurut catatan Prof. Tadjoer, Soekeni belajar banyak hal tentang pertanian serta kondisi sosiokultural masyarakat Jombang kepada Kiai Abdul Mu’thi.

Sementara itu, menurut Dian Sukarno dalam buku Trilogi Spiritualitas Bung Karno, Sukarno pernah nyantri di Pondok Pesantren Kedungturi yang dirintis Kyai Syuhada. Dia ngaji kepada Kiai Abdul Mu’thi, yang merupakan putra sekaligus penerus Kiai Syuhada.  Sukarno, menurut Dian Sukarno, mengaji dasar-dasar keislaman, fashalatan, dan baca tulis Al-Quran kepada Kiai Abdul Mu’thi.

Pos terkait