KH. Abdul Mu’thi: Pengusaha Bertangan Dingin, Aktivis, dan Guru Ngaji Sukarno Kecil

Abdul Mu’thi dan PSII

Pada tahun 1911, organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) lahir. Perintisnya adalah RM. Tirto Adi Soerjo—yang juga merupakan salah satu peletak dasar jurnalisme nasional. Awalnya SDI merupakan perkumpulan pedagang Islam, khususnya pedagang batik.

Niat awal organisasi ini adalah menghimpun para pedagang pribumi Muslim—terutama pedagang batik—agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang Tionghoa. Kemungkinan Abdul Mu’thi sudah berinteraksi dengan SDI melalui istrinya, Nyai Nasikhah. Pasalnya, Nyai Nasikhah adalah pedagang batik. Namun, kemungkinan relasi ini masih perlu dikaji lebih lanjut.

Bacaan Lainnya

Pada perkembangannya, SDI bentukan Tirto Adi Soerjo ini tak berkembang. Sebagaimana dicatat dalam buku H.O.S. Tjokroaminoto: Penyemai Pergerakan Kebangsaan dan Kemerdekaan (terbitan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/2015), terjadi kemelut dalam organisasi gegara kewajiban SDI tidak ada yang terlaksana.

Untuk mengatasi kemelut ini, H. Samanhoedi, salah satu tokoh SDI, berinisiatif mendirikan Sarekat Islam (SI). Organisasi baru ini ternyata mendapat simpati dari banyak surat kabar lokal yang terbit di Hindia Belanda. Banyak penduduk Surakarta yang beragama Islam bergabung menjadi anggota.

Namun, di sisi lain, eksistensi SI menimbulkan kecurigaan Pemerintah Residen Surakarta. Mereka dicurigai bakal “melakukan sesuatu” untuk mengusik pemerintah.

Kendati dicurigai Residen Surakarta, pesona SI ternyata mampu menembus batas geografis. Merembet hingga Jawa Timur. Pada Maret 1912, tercatat banyak warga Surabaya yang menjadi anggotanya. Sampai-sampai Tjokroaminoto, seorang aktivis Surabaya yang cukup bersinar pada masa itu, tertarik dengan organisasi ini. Apalagi SI bergerak berdasarkan keislaman dan pemberdayaan rakyat kecil—dua hal yang disukai Tjokro.

Ketertarikan Tjokro ternyata ditangkap oleh pengurus SI Surakarta. Begitu mereka tahu ada seorang pemuda yang sangat aktif dan potensial, seorang pengurus SI Surakarta—yang sayangnya namanya tidak tercatat—mengunjungi dan menemui Tjokro di Surabaya, pada Mei 1912.

Pengurus SI tersebut berusaha melobi Tjokroaminoto agar mau bergabung. Mereka berharap Tjokro mampu membesarkan organisasi ini dan mampu menyelesaikan permasalahan mereka dengan Pemerintah Residen Surakarta yang terus mencurigai SI. Apalagi, ada pernyataan dari beberapa calon donatur yang bersedia membantu SI apabila Tjokroaminoto bersedia bergabung.

Setelah pertemuan tersebut, pada 13 Mei 1912, Tjokro menerima panggilan dari Pengurus SI Surakarta. Dia diminta membantu menangani permasalahan yang dihadapi di SI dengan Residen Surakarta saat itu.

Tjokroaminoto pun pergi ke Solo. Awalnya dia menemui sahabatnya R. Tjokrosoedarmo, lebih dulu. Di situlah dia menyatakan sanggup bergabung dengan SI. Dia pun merencanakan untuk mengadakan rapat di Surabaya untuk membahas apa yang sudah diputuskannya sewaktu mengunjungi sekretariat SI di Solo.

Pos terkait