Pada awal Agustus 1912, terjadi peristiwa yang menghebohkan di seluruh wilayah Hindia Belanda. Terjadi pemogokan di Solo—wilayah yang warganya banyak jadi anggota SI. Mereka mogok di wilayah Krapyak.
Berhubung banyak pemogok yang anggota SI, organisasi ini pun diskors oleh Residen Solo pada 12 Agustus 1912. Skorsing itu berdasarkan Resident Wijk yang dikeluarkan pada tanggal tersebut.
Namun, pemerintah residen ternyata tidak melihat tanda-tanda protes terhadap skorsing SI. Hingga akhirnya mereka beranggapan bahwa insiden pemogokan buruh bukan didalangi SI. Maka, 14 hari setelah SI diskorsing, pemerintah mencabut kebijakan tersebut, pada 26 Agustus 1912.
Kendati skorsing SI telah dicabut, sarekat ini tidak diizinkan menerima anggota yang dari luar kota Solo. Larangan ini justru mendorong minat simpatisan SI dari luar Solo untuk bergabung dengan organisasi.
Dalam situasi seperti inilah Tjokroaminoto bersedia duduk di dalam kepengurusan SI. Kesanggupan Tjokro dilanjutkan dengan menghadap Notaris B. Te Kuile pada 10 September 1912 di Surakarta. Bersama 11 orang lainnya, Tjokro berniat melegalkan SI. Agar pengajuannya disetujui, dia meyakinkan notaris bahwa pada prinsipnya SI akan menjalankan syariat Islam dengan tidak melanggar undang- undang, adat-istiadat dan tidak melanggar ketertiban umum.
Pada 14 September 1912, statuta SI selesai dibuat, dengan H. Samanhoedi sebagai ketua umum dan Tjokroaminoto sebagai wakilnya. Kendati Residen Surakarta tidak mengizinkan SI merekrut anggota, namun organisasi ini berkembang di luar Solo.
Tjokroaminoto sendiri menjadi Ketua SI Surabaya. Setelah dipimpin Tjokro, SI Surabaya kian gencar berkampanye. Walhasil, dalam waktu dua bulan, di Jawa Timur tercatat lebih dari 2.000 anggota yang bergabung dengan SI.
SI berkembang dengan cepat dan menjalar ke seluruh wilayah Jawa bagian timur. Rumah Tjokroaminoto dikunjungi orang yang ingin menjadi anggota, setiap hari, siang dan malam. Nama Tjokroaminoto mulai dikenal. Kemungkinan pada masa-masa inilah Abdul Mu’thi bergabung dengan SI.
Tjokro tak ingin organisasi yang dipimpinnya hanya bergerak di bidang ekonomi. Dia ingin merambah ranah politik. Untuk keperluan itu, maka organisasi pun berubah bentuk. Bukan hanya sarekat, tetapi menjadi partai. SI pun berubah nama lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) dengan Tjokroaminoto tampil sebagai pemimpinnya.
Kiai Abdul Mu’thi, pengusaha dan pendakwah kondang Jombang, pun tertarik dengan PSII. Belum ditemukan sumber resmi apa alasannya bergabung dan bagaimana dia bertemu PSII atau Tjokro, yang jelas, beberapa catatan sejarah menyebut dia adalah bagian penting organisasi tersebut—terutama untuk wilayah Jombang. Bisa jadi lantaran visi SI dan Tjokroaminoto sama dengan visinya sebagai pengusaha dan pendakwah: ingin bersama-sama mengembangkan perekonomian umat Muslim.
Beberapa catatan sejarah juga menyebut Kiai Mu’thi cukup dekat dengan Tjokro. Setiap kali Tjokro melakukan perjalanan ke Jawa Timur, dia tak pernah lupa menyambangi Abdul Mu’thi.
Mereka sering berdiskusi tentang banyak hal. Abdul Mu’thi bahkan pernah ditunjuk sebagai juru debat dan kampanye PSII. Melalui partai itulah Kiai Mu’thi menyerukan pentingnya kemandirian—terutama kemandirian ekonomi—kepada masyarakat Indonesia.
Semangat itulah yang sepertinya masih dirawat oleh putra Kiai Abdul Mu’thi, KH. Moch. Muchtar Mu’thi. Ulama yang sering disapa Kiai Tar itu terus mengampanyekan semangat kemandirian ekonomi dan cinta tanah air melalui Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah yang dia asuh. Pesantren yang berdiri di lokasi di mana Pesantren Kedungturi dulu pernah eksis.
Kiai Abdul Mu’thi wafat pada Jum’at Pahing, 21 Syawal 1367 H/27 Agustus 1948. Dia meninggalkan 17 putra dan putri dari dua orang istri. Jenazah Kiai Abdul Mu’thi dimakamkan di dekat makam ayahnya, Kiai Achmad Syuhada, di pemakaman belakang Pesantren Shiddiqiyyah Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.—bersambung
—Foto: KH. Abdul Mu’thi (kiri), H.O.S. Tjokroaminoto (kanan atas), dan Sukarno (kanan bawah). Ketiga tokoh ini saling terhubung pada masa lalu.(Dok. Istimewa).—
Wijdan | mg-01 | Diolah dari berbagai sumber
—Catatan: Selain bersumber dari buku-buku sejarah resmi yang sudah terpublikasi, artikel ini juga mengutip sumber dari hasil kajian kesejarahan Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Jombang, mengingat begitu minimnya sumber-sumber sejarah resmi yang menjelaskan tentang KH. Abdul Mu’thi.—





