KH. Abdul Mu’thi: Pengusaha Bertangan Dingin, Aktivis, dan Guru Ngaji Sukarno Kecil

Ketika berguru pada Kiai Muntoha inilah Abdul Mu’thi bertemu dengan istri pertamanya; Nyai Marfu’ah. Mu’thi bertemu Marfu’ah ketika dia dan Kiai Muntoha menginap di sebuah pesantren di Peterongan, Jombang, milik Haji Ibrahim. Haji Ibrahim adalah ulama asli Madura yang berdomisili di Demak, Jawa Tengah. Ketika itu dia sedang berkunjung ke Jombang bersama putrinya, Marfu’ah.

Singkat cerita, Abdul Mu’thi dan Marfu’ah bertemu, jatuh cinta, dan menikah. Mereka dikaruniai enam orang putra dan putri.

Bacaan Lainnya

Selain menikah dengan Nyai Marfu’ah, Kiai Abdul Mu’thi juga menikahi Nyai Nasikhah, seorang juragan batik dari Surakarta. Dari pernikahan kedua inilah lahir Mochammad Muchtar Mu’thi—yang kelak mendirikan Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, sekaligus Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah.

Abdul Mu’thi juga pernah berguru pada Syekh Ahmad Djazuli di Jabal Qubais, Makkah, khusus untuk mempelajari kitab wirid Dalail al Khairat sampai tamat. Dalail al Khairat adalah kitab berisi do’a-do’a dan shalawat-shalawat khusus.

Setelah menempuh begitu banyak pembelajaran agama Islam, Kiai Abdul Mu’thi bertransformasi menjadi ulama besar—selain juga dikenal sebagai pengusaha yang sukses—khususnya di Jombang. Banyak santri—yang di kemudian hari menjadi ulama besar nasional—ngaji ke Kiai Mu’thi. Antara lain, menurut sebuah rangkaian cerita yang beredar dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, adalah KH. Bisri Syansuri dan KH. Abdul Wahab Chasbullah, dua ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Kadang Kiai Wahab dan Kiai Bisri muda mengaji ke Pesanten Kedungturi.

Namun, mereka berdua sempat kena tegur Kiai Hasyim Asy’ari gara-gara dinilai terlalu dekat dengan Kiai Mu’thi. Tak jelas alasan Kiai Hasyim menegur dua santrinya tersebut.

Biasanya Kiai Wahab dan Kiai Bisri menurut pada ucapan Kiai Hasyim. Tetapi, untuk peringatan tentang kedekatan mereka dengan Kiai Mu’thi, keduanya bersikap agak berbeda.

Kiai Wahab dikabarkan sempat membantah. Sedang Kiai Bisri memilih diam, tetapi diam-diam tetap berhubungan dengan Kiai Mu’thi. Bahkan, dia memberi kesempatan kepada Kiai Abdul Mu’thi untuk mengisi acara keagamaan di Pesantren Denanyar—yang kala itu baru tumbuh.

Pengusaha yang Disiplin

Abdul Mu’thi adalah seorang ulama yang disiplin dalam segala hal. Salah satunya dalam mendidik putra-putrinya.

Salah satu bentuk kedisiplinan yang diterapkannya, misal, jika di siang hari dia menemui ada anaknya yang mengaji atau membaca wirid yang panjang, si anak malah ditegurnya. ”Bukan waktunya untuk mengerjakan itu! Tetapi, sekarang adalah waktunya bekerja untuk kehidupan duniamu!” demikian cara Kiai Abdul Mu’thi menegur.

Kedisplinan dan kerapian Kiai Mu’thi juga tampak dari caranya menyimpan peralatan yang digunakannya untuk kegiatan usahanya sehari-hari. Tiap-tiap alat yang dia pakai untuk bekerja—seperti pisau, sabit, minyak tanah, dan alat-alat lain untuk bertani atau berkebun—memiliki tempat sendiri-sendiri dan tertata rapi. Tujuannya agar jika memerlukannya, alat-alat itu mudah ditemukan karena jelas tempatnya.

Barangkali karena kedisiplinan yang diterapkannya itulah usaha-usaha perekonomian Kiai Mu’thi berkembang dengan baik. Pertaniannya menghasilkan panen yang bagus. Perkebunan tembakaunya juga membuahkan hasil memuaskan.

Walhasil, keluarga Abdul Mu’thi hidup dalam kondisi berkecukupan secara materi. Bahkan cenderung berlebih. Saking banyaknya urusan bisnis Kiai Mu’thi, sampai-sampai dia perlu 40-an orang untuk membantunya.

Pos terkait