Seminar bertajuk “Jejak Tokoh Bangsa di Jombang” yang digelar pada Selasa, 15 Oktober 2024, menghadirkan rekomendasi penting untuk Pemkab Jombang: agar menetapkan situs kelahiran Sukarno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, menjadi cagar budaya.
Artikel ini merupakan unggahan ulang, yang dunggah pertama kali pada 16 Oktober 2024, dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan. Diunggah kembali untuk membuka lagi ruang diskusi perihal tanah kelahiran Presiden ke-1 RI, Sukarno. Untuk menyimak secara lebih luas pembahasan tema ini, bisa mengakses tautan ini → Titik Nol 1902.
Seminar yang digelar di Alun Alun Jombang ini, menghadirkan pembicara sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Anhar Gonggong; jurnalis Sukarnois, Roso Daras; serta budayawan Binhad Nurrohmat, yang juga inisiator Titik Nol Sukarno di Ploso, Jombang.
Binhad Nurrohmat memaparkan hasil penelitiannya yang dikemas dalam video dokumentar. Dalam video tersebut, dia menyebutkan bahwa Sukarno lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang pada 6 Juni 1902, bukan di Surabaya pada 6 Juni 1901 sebagaimana yang selama ini diyakini.
Pernyataan ini berdasarkan sejumlah dokumen dan kesaksian yang ia kumpulkan, termasuk beslit (surat keputusan) tentang pengangkatan ayah Sukarno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, sebagai guru di Ploso.

Binhad juga menyajikan dokumen dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menyebutkan tahun kelahiran Soekarno adalah 1902, serta tulisan tangan Raden Soekeni yang menceritakan asal-usul keluarganya.
“Saya menyimpulkan bahwa Soekarno lahir di Jombang pada 6 Juni 1902,” ujar Binhad yang didapuk sebagai pembicara pertama, Selasa (15/10/2024).
Selain dokumen, Binhad juga membeberkan sejumlah foto yang mendukung penelitiannya. Di antaranya adalah foto rumah masa kecil Sukarno di Ploso, tempat ayahnya tinggal saat menjadi guru, serta foto-foto sekolah tempat Soekarno belajar. Sayangnya, rumah tersebut telah roboh pada awal tahun 2000-an dan kini hanya menyisakan pondasi.
Sejarah Lisan dan Sumber Lokal
Binhad menjelaskan bahwa salah satu sumber penelitiannya adalah cerita dari pengelola Rumah Masa Kecil Sukarno di Kediri, R Kushartono, yang mengklaim bahwa buyutnya pernah menceritakan bahwa Sukarno lahir di Ploso.
Menurut cerita tersebut, beberapa tokoh penting membantu proses kelahiran Sukarno, termasuk Den Mas Mendung, yang kemudian mengganti nama Kusno menjadi Sukarno, serta Sumo Jani, saksi yang menanam ari-ari Sukarno di Jombang.
Kisah ini juga diperkuat dengan foto Mbok Suwi, pengasuh Soekarno kecil, yang berpose bersama Cindy Adam, jurnalis yang menulis biografi Soekarno “Penyambung Lidah Rakyat”, saat berkunjung ke Ploso pada 1964.
“Foto ini diambil ketika Cindy Adam mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagi Soekarno di Ploso untuk merampungkan buku biografinya,” jelas Binhad.
Di sisi lain, jurnalis Sukarnois, Roso Daras mendorong agar situs kelahiran Sukarno di Ploso Jombang segera dijadikan cagar budaya.
“Saya sudah berkunjung ke situs-situs Sukarno di seluruh Indonesia, dan hanya situs di Ploso Jombang yang belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Padahal, situs-situs lainnya sudah resmi ditetapkan,” ungkap Roso yang menjadi pembicara kedua.
Menurut dia, cara mengemas situs cagar budaya harus berbeda sehingga menarik perhatian pengunjung. “Imajinasi saya, bagaimana kalau situs kelahiran bung Karno direkonstruksi oleh I Nyoman Nuarta, hasilnya pasti luar biasa,” tandasnya.
Apresiasi dan Tanggapan
Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong mengapresiasi penelitian Binhad yang dinilai menggunakan metode yang tepat dengan memadukan dokumen-dokumen resmi dan sejarah lisan.
“Perbedaan pendapat dalam sejarah itu hal yang biasa. Yang terpenting, penelitian ini menggunakan metode sejarah yang benar dengan sumber-sumber yang sahih,” ujarnya.

Namun, Anhar juga mengingatkan bahwa penelitian ini harus ditinjau lebih lanjut dengan pembanding lain untuk memastikan keabsahannya. Meskipun begitu, ia menilai penelitian ini penting karena selama ini banyak orang hanya menganggap Sukarno lahir di Surabaya.
Rekomendasi Seminar
Seminar ini menghasilkan delapan rekomendasi penting, salah satunya adalah desakan agar Pemerintah Kabupaten Jombang segera menetapkan situs kelahiran Sukarno di Desa Rejoagung sebagai cagar budaya.
Rekomendasi lainnya termasuk pembebasan lahan situs kelahiran Sukarno, rekonstruksi rumah masa kecilnya, serta penyelenggaraan agenda tahunan “Titik Nol Sukarno” di Ploso.
Rekomendasi lain adalah usulan untuk memasukkan sejarah kelahiran Sukarno di Ploso ke dalam kurikulum muatan lokal di Jombang, serta pengembangan “Lorong Tokoh Bangsa” di perpustakaan daerah yang berisi dokumen-dokumen otentik terkait Sukarno dan Gus Dur. Seminar ini juga mendesak Pemerintah agar menetapkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan nasional.***





