Jejak Haji Abdul Mu’thi: Penasihat Spiritual Proklamasi dan Jenderal Penjaga Akidah

Haji Abdul Mu'thi, salah satu ulama tasawuf yang disowani Bung Karno untuk meminta petuah terkait hari dan tanggal Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945. - AI Generate berdasarkan foto dok. Suara Muhammadiyah
Sejarah mencatat Haji Abdul Mu’thi bukan sekadar ulama biasa, melainkan sosok guru batin pembisik Proklamasi sekaligus perwira militer yang berani melawan arus kekuasaan demi menjaga kemurnian akidah.

​Banyak orang langsung teringat pada tokoh-tokoh modern ketika mendengar nama Abdul Mu’thi dalam lintasan sejarah pergerakan Islam Indonesia. Padahal, lembaran sejarah menyimpan satu sosok ulama visioner bernama serupa dari Keresidenan Madiun.

Haji Abdul Mu’thi tidak hanya memimpin Muhammadiyah pada masa-masa awal, tetapi ia juga memegang peran krusial sebagai guru spiritual Presiden Soekarno dan perwira tinggi militer negara ini.

​Meramu Ilmu dari Sekolah Belanda hingga Mesir

​Lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tahun 1889, Abdul Mu’thi muda menolak batasan satu corak pemikiran. Ia tampil sebagai santri langka yang sukses memadukan dua kutub pendidikan yang bertolak belakang. Ia menajamkan logika dan penguasaan bahasa asing di sekolah menengah Belanda, lalu mengembara dari pesantren ke pesantren di pelosok Jawa Timur untuk memuaskan dahaga spiritualnya.

Bacaan Lainnya

​Petualangan intelektualnya mencapai puncak pada tahun 1914. Menantang bahaya Perang Dunia I yang tengah berkecamuk, ia nekat mengarungi samudra menuju Mesir. Di sana, ia menimba gagasan pembaruan Islam langsung dari para reformis Timur Tengah. Bekal pemikiran progresif inilah yang kelak ia gunakan untuk mendobrak kebekuan dakwah di Tanah Air.

​Singa Podium yang Menggetarkan Kolonial

​Sepulang ke Nusantara, Abdul Mu’thi langsung terjun ke gelanggang pergerakan. Ia mengawali kiprah organisasinya dengan memimpin Cabang Muhammadiyah Kudus pada tahun 1923. Sebagai seorang mubalig, ia tampil bagaikan singa podium. Ia kerap melontarkan pidato dan ceramah keagamaan yang keras menentang kebijakan kolonial Belanda. Ia juga aktif mengedarkan selebaran pencerahan kepada umat Islam.

​Akibat keberaniannya, kepolisian kolonial sering menegurnya. Puncaknya, pemerintah kolonial menangkap sang kiai dengan tuduhan menghina penguasa dan mengganggu ketenteraman. Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah Yogyakarta kemudian mengutus Haji Fachrodin untuk membebaskannya. Upaya ini berhasil dengan syarat Abdul Mu’thi harus meninggalkan Kudus.

Pos terkait