Kisah ini juga diperkuat dengan foto Mbok Suwi, pengasuh Soekarno kecil, yang berpose bersama Cindy Adam, jurnalis yang menulis biografi Soekarno “Penyambung Lidah Rakyat”, saat berkunjung ke Ploso pada 1964.
“Foto ini diambil ketika Cindy Adam mengunjungi tempat-tempat bersejarah bagi Soekarno di Ploso untuk merampungkan buku biografinya,” jelas Binhad.
Di sisi lain, jurnalis Sukarnois, Roso Daras mendorong agar situs kelahiran Sukarno di Ploso Jombang segera dijadikan cagar budaya.
“Saya sudah berkunjung ke situs-situs Sukarno di seluruh Indonesia, dan hanya situs di Ploso Jombang yang belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Padahal, situs-situs lainnya sudah resmi ditetapkan,” ungkap Roso yang menjadi pembicara kedua.
Menurut dia, cara mengemas situs cagar budaya harus berbeda sehingga menarik perhatian pengunjung. “Imajinasi saya, bagaimana kalau situs kelahiran bung Karno direkonstruksi oleh I Nyoman Nuarta, hasilnya pasti luar biasa,” tandasnya.
Apresiasi dan Tanggapan
Sejarawan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong mengapresiasi penelitian Binhad yang dinilai menggunakan metode yang tepat dengan memadukan dokumen-dokumen resmi dan sejarah lisan.
“Perbedaan pendapat dalam sejarah itu hal yang biasa. Yang terpenting, penelitian ini menggunakan metode sejarah yang benar dengan sumber-sumber yang sahih,” ujarnya.

Namun, Anhar juga mengingatkan bahwa penelitian ini harus ditinjau lebih lanjut dengan pembanding lain untuk memastikan keabsahannya. Meskipun begitu, ia menilai penelitian ini penting karena selama ini banyak orang hanya menganggap Sukarno lahir di Surabaya.
Rekomendasi Seminar
Seminar ini menghasilkan delapan rekomendasi penting, salah satunya adalah desakan agar Pemerintah Kabupaten Jombang segera menetapkan situs kelahiran Sukarno di Desa Rejoagung sebagai cagar budaya.
Rekomendasi lainnya termasuk pembebasan lahan situs kelahiran Sukarno, rekonstruksi rumah masa kecilnya, serta penyelenggaraan agenda tahunan “Titik Nol Sukarno” di Ploso.
Rekomendasi lain adalah usulan untuk memasukkan sejarah kelahiran Sukarno di Ploso ke dalam kurikulum muatan lokal di Jombang, serta pengembangan “Lorong Tokoh Bangsa” di perpustakaan daerah yang berisi dokumen-dokumen otentik terkait Sukarno dan Gus Dur. Seminar ini juga mendesak Pemerintah agar menetapkan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pahlawan nasional.***





