JAKARTA–Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK), Said Aqil Siroj, memperingatkan bahwa fenomena pembubaran Jemaah Islamiyah (JI) dan keberadaan “Zero Terorism Attact” merupakan pertanda lahirnya babak baru penyebarluasan ideologi radikal, intoleransi, ekstremisme dan terorisme, yang bergerak masif secara terselubung dan undercover.
Said menyampaikannya dalam pidato pada acara kajian yang digelar LPOI dan LPOK bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bertema “Metamorfosa Gerakan dan Paham Radikal Terorisme dan Beberapa Upaya Mitigasinya”, pada Kamis (15/8/2024), di Hotel Royal Kuningan Jakarta.
Ketua Umum PBNU masa khidmat 2010-2021 ini menjelaskan, indeks potensi radikalisme bukan pertanda perang terhadap Gerakan dan Paham Radikal Terorisme berakhir. Tetapi, “Kelompok intoleran dan radikal terorisme kini tengah menyusup, bergerak senyap,” ujar Said memperingatkan.
Said mensinyalir jika gerakan senyap tersebut ditempuh untuk mengonsolidasikan kekuatannya dengan strategi infiltrasi dan akuisisi di semua sektor kehidupan sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, kesehatan, pendidikan, pertahan dan keamanan.
“Kelompok intoleran dan kelompok radikal terorisme tengah berusaha merebut dan mengambilalih kepemimpinan di semua sektor, dan menguasai seluruh sumberdaya yang ada di negeri ini,” ungkapnya.
“Mereka tengah melakukan metamorfosa gerakan dari yang bersifat frontal konfrontatif menjadi bersifat low explosives-high impact (rendah ledakan-berdampak tinggi),” imbuhnya.
Said pun mengingatkan agar penyelenggara negara, aparat penegak hukum, dan khususnya BNPT, harus lebih waspada dan melakukan screening secara lebih detail terhadap sel-sel pelaku intoleransi dan radikal teroris yang bergerak lebih leluasa di ruang publik.
“Karena sel-sel tersebut tidak lagi menunjukkan tampang garang dan bergerak secara sembunyi, tetapi dengan terang benderang bergerak menggunakan berbagai identitas dan cover, baik sebagai politisi, polisi, tentara, pebisnis, pendidik, agamawan, dan atau profesi lainnya,” wanti-wanti dia.
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Atsaqofah, Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga menjelaskan maraknya cyber attack atau serangan siber dan dan digital terorism dibarengi dengan pressure terhadap imunitas ideologi warga bangsa Indonesia, di tengah serbuan Ideologi transnasional.
Dia khawatir, bila dibiarkan dan tidak diantisipasi, fenomena ini berpotensi mampu meretakkan kedaulatan nasional bangsa Indonesia dan mengacaukan kesatuan dan persatuan Indonesia.
“Kedaulatan digital harus diprioritaskan selain kedaulatan teritorial yang juga harus dijaga,” pesan dia.
Di penutup ceramahnya, Kiai Said menyatakan, “LPOI dan LPOK siap menjadi konsolidator diplomasi dunia Islam di kancah internasional, sekaligus menjadi orkestrator harmoni pembangunan nasional untuk kebaikan bersama,” tandasnya.*





