Nobel Perdamaian Ternyata Bisa Dicatut Gratis, Cukup Modal Nama Presiden dan Nekat

Ilustrasi pemeriksaan makalah 69 halaman yang mencantumkan identitas pejabat tanpa persetujuan. Pemerintah dan DPR masih mengusut dugaan pelanggaran etik.(AI)

Sebuah makalah setebal 69 halaman mengklaim program Makan Bergizi Gratis layak meraih Nobel Perdamaian 2026 — mencantumkan nama Prabowo, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan surat resmi Kemendagri, tanpa izin siapa pun yang namanya dipakai.

Dalam novel sekaligus film The Talented Mr. Ripley, seorang pemuda papa mencuri identitas orang kaya demi diakui sebagai bagian dari dunia elite. Ia berbohong, memalsukan tanda tangan, menyusup ke hidup orang lain — sekadar demi validasi.

Ripley hanya tokoh rekaan. Tapi pekan lalu, negeri ini punya kejadian yang polanya nyaris serupa — bedanya, yang dicatut bukan identitas orang biasa, melainkan nama presiden sendiri, dan nama kepala negara sahabat.

Anda baru sadar ada yang salah setelah dokumennya viral duluan di media sosial. Begitulah yang dialami Prabowo Subianto pekan lalu — dan Emmanuel Macron pun mengalami perkara serupa, dalam naskah yang sama persis.

Bacaan Lainnya

Pintu Belakang Menuju Panggung Dunia

Makalah berjudul “Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by The National Nutrition Agency” diunggah ke SSRN.com — repositori pracetak yang pintunya terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa telaah sejawat (peer review) sama sekali.

Bandingkan dengan cara kerja Komite Nobel Norwegia yang sesungguhnya. Yang berhak mengajukan nominasi hanya segelintir pihak: kepala negara, anggota parlemen, profesor hukum dan ilmu sosial, atau peraih Nobel sebelumnya.

Nominasi resmi pun disampaikan tertutup, langsung ke komite — bukan diunggah bebas ke internet agar dibaca dunia, sebelum satu pun proses verifikasi benar-benar dijalankan.

Maka label “kandidat Nobel Perdamaian 2026” pada makalah yang diunggah mandiri itu, sejatinya tak berarti apa-apa secara prosedural. Tapi bagi mata yang cuma membaca judulnya sekilas, kesan yang tertangkap bisa jauh berbeda.

Siapa yang Berani Pasang Nama Tanpa Izin

Penulis utamanya, Dian Damayanti, sudah meminta maaf secara terbuka — termasuk kepada Macron, yang namanya dicatut tanpa persetujuan sama sekali, tanpa basa-basi terlebih dulu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan