Pada akhirnya, Sukarno versi 1901 yang dijadikan panutan banyak orang—dan dijadikan simbol politik—adalah Sukarno yang tidak menggambarkan jati diri Bangsa Indonesia. Generasi-generasi berikutnya, yang juga menjadikannya sebagai acuan, pun tidak benar-benar mengenal Sukarno yang asli.
Generasi berikutnya pun terpental jauh dari lajur perjuangan dan cita-cita Bangsa Indonesia karena lupa pada jati diri bangsanya.
Dampaknya? Terjadi berbagai kekacauan di banyak bidang: politik yang karut-marut, ekonomi yang limbung, hukum yang menjelma menjadi panggung sandiwara, dan keadilan sosial hanya menjadi halusinasi.
Semua itu, dalam pandangan redaksi, gegara narasi yang keliru tentang sosok yang memiliki peran penting bagi negara ini. Dan semua itu bermula dari kekeliruan memahami titik awal perjalanannya.
Untuk menghindari kerusakan sejarah yang kian parah, Redaksi Samudra Fakta dan Reddocs.id bersepakat bahwa sejarah awal ‘keberangkatan’ Sukarno—yang dimulai dari tempat di mana dia lahir dan mendapat pendidikan awal—perlu dinarasikan ulang.
Setelah melakukan riset dan observasi selama kurang lebih dua tahun, redaksi berhipotesa bahwa terjadi ‘kekeliruan’ ihwal titik awal keberangkatan Sukarno itu. Dan kekeliruan sejarah awal Sukarno ini, menurut hipotesa redaksi, berdampak pada kekeliruan banyak aspek dalam perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia.
Nah, sebagai upaya untuk membawa pulang kembali anak-anak Bangsa ini pada lajur sejarahnya, Samudra Fakta dan Reddocs.id mempersembahkan “Titik Nol 1902: Menelusuri Jejak Tempat dan Tahun Kelahiran Sukarno di Gang Buntu, Ploso, Jombang”.
Pengetahuan yang akurat tentang titik nol Sukarno—yang ternyata berawal di Ploso, Jombang, pada tahun 1902; bukan di Surabaya pada tahun 1901—diharapkan bakal merevisi pemahaman tentang dirinya, yang pada akhirnya akan merevisi banyak hal.
Berbagai revisi tersebut diharapkan bakal membangkitkan kesadaran kolektif bangsa ini: bahwa kebesaran Bangsa Indonesia akan terwujud bila kesadaran sejarah bangsa ini dibawa kembali pulang pada lajurnya.
Karena, sebagaimana telah disinggung pada bagian terdahulu, pada titik awal suatu perjalanan sejarah biasanya terbentuk nilai-nilai, prinsip, dan identitas yang membimbing langkah-langkah berikutnya.
Dengan mengetahui secara akurat titik awal atau titik nol keberangkatan Sukarno, maka akan terpahami pula bagaimana sebenarnya nilai-nilai, prinsip, dan identitasi yang membimbing langkah-langkah dia—yang semestinya menjadi acuan perjalanan sejarah Bangsa Indonesia saat ini.*
——-
—Tonton filmnya dengan klik poster di bawah:







1 Komentar
Komentar ditutup.