Akhirnya Nixon benar-benar habis, ditelan gelombang mosi tak percaya. Dalam proses lanjutan kasus ini, Hakim Sirica mengungkapkan, ketika Haldeman dan kawan-kawannya dituntut, mereka gamblang menyebut Nixon lah bos komplotan mereka. Tetapi, tuntutan tidak bisa lugas diajukan, karena Nixon masih presiden yang menjabat.
Pukulan mematikan malah datang dari Kejaksaan Agung, yang dalam keputusan memaksa Nixon menyerahkan semua rekaman asli yang dimilikinya, bukan hanya transkrip.
Sang Presiden tak bisa berkelit lagi ketika di salah satu rekaman percakapan pada 23 Juni 1972, Nixon jelas memerintahkan Haldeman agar mengarahkan CIA untuk merintangi pemeriksaan FBI soal sumber uang untuk pembobol Watergate. Sebelumnya Nixon menyembunyikan percakapan itu, bahkan dari pengacaranya sendiri.
Skandal memalukan pun terbuka vulgar. Buzhardt, Haig, Kissinger, dan penasihat Nixon, James St. Clair, mengusulkan agar Nixon mengundurkan diri. Tetapi, pengaruh Republik pro-Nixon di Kongres masih cukup kuat. Ketika Nixon mengajukan pengunduran diri, Kongres tidak setuju.
Lalu diadakanlah briefing tertutup; para pemimpin Partai Republik memberi tahu Nixon bahwa 425 dari 435 anggota Kongres akan memberi suara untuk pemeriksaan, dan hanya selusin senator akan menentang hukuman untuknya. Artinya, mau tak mau, Nixon harus mundur, tetapi tanpa proses persidangan yang bisa memalukannya. Itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa-sisa kehormatannya.
Gong berbunyi 8 Agustus 1974. Nixon menyampaikan pidato yang membanggakan prestasi-prestasinya di bidang kebijakan luar negeri, sekaligus mengumumkan pengunduran dirinya.
“Saya sudah tidak punya landasan politik yang kuat dalam Kongres,” dalilnya.
Sehari setelah itu, dia resmi mengundurkan diri. Gerald R. Ford, wakilnya yang “membosankan tetapi aman”, jadi Presiden AS pertama tanpa pemilihan, dan tanpa wakil presiden.
Demikianlah. Upaya memalukan Nixon untuk mempertahankan kekuasannya berujung pada berakhirnya kekuasaan dengan cara yang lebih memalukan lagi.*





