Belajar dari Skandal Watergate: Politik Curang yang Berujung Pengunduran Diri Presiden

Tim Nixon pun kembali berupaya melakukan manipulasi. Buku-buku telepon internal Gedung Putih ditarik, diubah, untuk menyembunyikan kenyataan bahwa Hunt punya kantor di sana.

John Dean memerintahkan Hunt agar ke luar negeri untuk menghilang sebentar. Sementara Liddy menawarkan pasang badan, berjanji tidak akan buka mulut. Dia bahkan menyatakan bersedia berdiri di sudut jalan dan diberondong peluru sampai mati seandainya skandal itu terbongkar.

Bacaan Lainnya

John Dean pun mulai merancang kisah-kisah penutup aib yang rumit untuk mencegah agar kasus ini hanya berhenti pada Hunt dan Liddy. Uang tutup mulut juga dibayarkan kepada para pembobol yang tertangkap.

Sayang, Dean melupakan satu orang; si mantan agen FBI Alfred Baldwin, yang merupakan salah satu anggota tim monitoring operasi. Baldwin ini kemungkinan masih aktif sebagai agen FBI dan menyusup ke dalam sindikat Nixon. Dialah yang memberi tahu bahwa Liddy dan Hunt terlibat.

Menyikapi “nyanyian” Baldwin ini, pada 23 Juni 1972, Nixon dan Haldeman membicarakan kemungkinan menggunakan CIA untuk merintangi penyelidikan FBI. Tujuannya untuk mematahkan kesaksian Baldwin. Hunt dan Liddy pun harus dikorbankan.

Sebelum operasi berjalan, pemeriksaan dan peradilan Tujuh Sosok Watergate—yaitu lima penyadap yang tertangkap tangan, ditambah Hunt dan Liddy—terlanjur dijadwalkan Januari 1973. Memang, jadwal sidag itu masih menguntungkan Nixon karena digelar setelah pemilihan Presiden pada November 1972. Nixon masih punya kesempatan memenangkan pemilihan sekaligus melenyapkan bukti-bukti keterlibatannya.

Sesuai perhitungan linimasa tersebut, Nixon tetap bisa menang. Apalagi ketika itu Demokrat sedang kocar-kacir. Pada bulan Juli 1972, Demokrat harus melepaskan calon wakil presiden mereka, Thomas Eagleton, karena berkali-kali harus diopname di rumah sakit. Dia disinyalir kelelahan dan kehabisan tenaga.

Satu-satunya penghalang Nixon adalah calon pesiden Demokrat, George McGovern, yang antiperang. Sementara Nixon sangat mendukung perang. Jika McGovern benar-benar maju, itu bisa jadi masalah besar untuk Nixon.

Tetapi, bagaimana pun juga, dalam situasi tersebut Nixon masih diuntungkan. Jarak antara persidangan sampai pemilihan masih berbulan-bulan. Waktu itu cukup untuk menegosiasikan keterlibatan AS dalam perang Vietnam.

Jika Nixon bisa “menyelesaikan” perang itu, misalnya merampungkannya di meja negosiasi, sangat masuk akal jika dia berhasil meraih simpati untuk meraup dukungan dan menjabat untuk periode kedua.

Strategi kampanye Nixon rupanya berhasil. Dia memenangkan Pemilu pada November 1972. Namun, periode kedua Nixon itu dia mulai di tengah goncangan. Pasalnya, pemberitaan pers—terutama dari Washington Post—kukuh pada pendapat mereka bahwa semua penyadap yang diadili terindikasi berhubungan dengan Gedung Putih.

Kampanye Richard Nixon pada Pemilu 1972, yang berlangsung di tengah penyelidikan skandal Watergate. (Dok. Istimewa)

Sementara di pengadilan, McCord dan Liddy awalnya mengaku tak bersalah soal penyadapan di Watergate. Tetapi, di menit-menit akhir, Hunt mengaku bersalah.

Hakim John Sirica yang memimpin sidang pemeriksaan kasus itu, dibuat jengkel oleh para penuntut pemerintah atau jaksa yang kentara betul memperlakukan para terdakwa dengan halus dan lembut—hanyakarena mereka dekat dengan pemerintahan.

Proses pengadilan sendiri tak terpantau, dan nyaris muncul kesimpulan kalau pembobolan dan penyadapan Watergate benar-benar hanya melibatkan tujuh orang yang diperiksa.

Pos terkait