Belajar dari Skandal Watergate: Politik Curang yang Berujung Pengunduran Diri Presiden

Perintah tersebut terbit setelah Hakim Sirica mendapat informasi dari Alfered Baldwin yang menyebut bahwa Nixon punya rekaman penting terkait skandal Watergate.

Nixon sempat menolak. Tapi, setelah terus ditekan, akhirnya dia mau menyerahkan rekaman tadi. Namun, yang dia serahkan bukan rekaman asli yang utuh. Dia hanya menyerahkan kesimpulannya saja. Rekaman itu dianalisa oleh John C. Stennis, seorang senator yang setengah tuli, dari Mississippi.

Bacaan Lainnya

Reaksi terhadap pembeberan hasil sadapan yang hanya diserahkan sebagian ini sangat luar biasa. Jutaan surat dan telegram protes mengalir ke Washington. Publik menuduh Presiden Nixon ‘menyembunyikan sesuatu’. Untuk pertama kali Kongres mempertimbangkan agar Presiden diperiksa.

Pada 10 Oktober 1973, Wakil Presiden AS yang sangat piawai berpidato, Spiro Agnew, mengundurkan diri setelah mengaku nolo contendre—atau tidak ada gugatan—terhadap perkara suap jutaan dolar yang dia terima dari banyak kontraktor, semasa dia menjabat sebagai Pelaksana Kepala di Baltimore, awal tahun 1960-an. Sebagai ganti Agnew, Nixon menunjuk Gerald R. Ford, pria yang menurutnya “membosankan tetapi aman”.

Namun, keputusan Nixon memilih Ford rupanya justru mengancam riwayat politiknya. Menurut perhitungan Nixon awalnya, Ford bukanlah sosok ang ‘berbahaya’, yang bisa menunggangi situasi untuk menggesernya. Tapi, penilaian publik berkata lain. Ford dirasa alternatif yang pantas menggantikan Nixon—presiden yang ketika itu sudah kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.

Nixon sendiri akhirnya menyerahkan rekaman yang diminta Hakim Sirica pada 23 Oktober 1973. Di saat bersamaan, dia terisolir dan kehilangan semua penasihat terbaiknya.

Nixon juga tidak berani bicara dengan siapa pun. Bahkan, Kepala Staf Gedung Putih yang baru, Jendral Alexander Haig, lebih setia pada Menteri Luar Negeri Henry Kissinger, bukan pada Nixon. Kissinger satu-satunya dari beberapa petinggi yang tak tercemar skandal ini.

Keadaan makin buruk untuk Nixon. Pada 21 November 1973, Penasihat Gedung Putih J. Fred Buxhardt harus menyampaikan berita memalukan di persidangan; 19 menit pertama dari tape yang disita Hakim John Sirica ternyata terhapus. Padahal, pada bagian itu berisi percakapan penting saat Nixon kembali ke Gedung Putih, setelah pembobolan Watergate.

Rupanya Rose Mary Woods, sekretaris yang sudah lama bekerja pada Nixon, tak sengaja menghapus bagian itu. Nixon tak bisa berkelit. Kongres tak bisa mentolerir lagi.

Akhirnya dilakukan voting. Suara yang diperoleh menyebutkan; 401 mendukung kesimpulan telah terjadi skandal, sedangkan 4 menolak.

Komite majelis Yudisial mulai membuat rancangan untuk memeriksa Presiden. Haldeman, Ehrlichman, Strachan, Mitchell dan Colson—orang-orang kepercayaan Nixon—semuanya dituntut Juri Agung karena berkomplot, bersumpah palsu, dan merintangi keadilan.

Pada 30 April 1974, Presiden Nixon berusaha mengumumkan transkrip dari rekaman yang hilang, yang terdiri atas 200.000 kata, kepada publik. Dia melakukan itu untuk memperbaiki citranya, sekaligus menunjukkan kalau dia sama sekali tak bersalah.

Sayangnya, upaya tersebut sama sekali tidak membantu Nixon. Malah timbul pertanyaan dari publik; cara apalagi yang dilakukan Nixon untuk membenarkan kesalahan ini?

Pos terkait