Klaim lonjakan anggaran tunjangan profesi guru diwarnai fakta bertambahnya penerima baru, serta keluhan lambatnya pencairan dana pada awal tahun anggaran.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan alokasi tunjangan profesi guru di kementeriannya melonjak hingga 700 persen. Lonjakan anggaran ini diklaim sebagai rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia untuk menyiapkan sumber daya manusia.
“Pemberian hak melalui tunjangan profesi guru telah mengalami kenaikan 700 persen, tertinggi sepanjang sejarah,” kata Nasaruddin saat berpidato di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026).
Selain pemenuhan tunjangan, Nasaruddin menyebut kementeriannya telah menyalurkan bantuan Program Indonesia Pintar kepada 5,1 juta siswa. Pemerintah turut merevitalisasi 556 madrasah serta menyalurkan ribuan papan interaktif digital.
Ihwal besaran angka tersebut, seorang guru madrasah non-Aparatur Sipil Negara asal Salatiga membenarkan adanya lonjakan anggaran. Namun, ia menggarisbawahi bahwa peningkatan itu terjadi akibat bertambahnya jumlah penerima baru.
“Jumlah guru yang lulus pendidikan profesi banyak sekali, jadi anggarannya pasti naik. Bukan tunjangannya yang naik, melainkan jumlah penerimanya,” ujarnya kepada Samudrafakta pada Ahad (2/8/2026).
Kondisi ini memicu ragam asa dari para pendidik, termasuk Luluk, seorang guru Raudhatul Athfal swasta asal Semarang. Ia berharap momentum hari kemerdekaan tahun ini membuka jalan kepastian status bagi tenaga pendidik.
“Mudah-mudahan semakin maju di dunia pendidikan, terutama guru honorer. Honorer bisa diangkat menjadi pegawai negeri,” ujar Luluk.
Keluhan Keterlambatan Pencairan
Di tengah tingginya alokasi anggaran, persoalan lambatnya penyaluran hak pendidik masih menjadi sorotan. Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat, Selly Andriany Gantina, mempertanyakan pencairan yang kerap tertunda.
“Kenapa pencairannya lambat dibandingkan dengan yang di bawah Kemendikdasmen? Padahal sudah tidak ada lagi pelibatan pemerintah daerah, kan langsung ke rekening para guru,” tutur Selly.





