Krisis Energi Global Membayangi Saudi Akibat Eskalasi Perang

CEO Saudi Aramco Amin Nasser. (Tangkapan layar istimewa) 

CEO Saudi Aramco Amin Nasser menyebut dunia kehilangan 2,6 miliar barel minyak, sementara Yaman memperketat blokade jalur ekspor energi.

​Amin Nasser, Presiden Direktur dan Kepala Eksekutif Saudi Aramco, menyatakan bahwa dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak sejak konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran dimulai pada Februari 2026. Angka tersebut setara dengan hampir satu bulan produksi minyak dunia secara keseluruhan.

​Ihwal kekurangan pasokan ini, Amin Nasser memperingatkan bahwa pemulihan cadangan minyak global membutuhkan waktu panjang. Ia menjelaskan bahwa sekalipun Selat Hormuz dibuka hari ini, dunia masih memerlukan tambahan produksi rata-rata 2,1 juta barel per hari selama 18 bulan untuk memulihkan cadangan yang telah terkuras.

​Sebelumnya, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan operasi militer besar terhadap konsentrasi pasukan Saudi di sejumlah wilayah perbatasan. Operasi tersebut diklaim berhasil menghancurkan kamp militer, gudang senjata, dan kendaraan tempur, serta menimbulkan ratusan korban di kalangan personel yang berafiliasi dengan Saudi.

Bacaan Lainnya

​Blokade Jalur Ekspor Minyak

​Selain pertempuran di perbatasan darat, eskalasi konflik kini merambah jalur distribusi energi utama kerajaan. Reuters melaporkan bahwa blokade yang diumumkan Yaman terhadap industri minyak Saudi kini mengancam jalur pipa lintas-timur atau East-West Pipeline serta terminal ekspor Saudi di Laut Merah.

​Ancaman tersebut membuat jalur alternatif yang selama ini menjadi andalan Saudi kini berada dalam tekanan berat. Yaman menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan strategi blokade hingga pengepungan terhadap wilayah mereka yang telah berlangsung sejak 2015 benar-benar diakhiri.

​Terkait dinamika politik yang mendasari konflik ini, pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, Dina Y. Sulaeman, memberikan pandangannya. Melalui akun Facebook pribadinya pada Jumat (7/8/2026), ia menyoroti keterlibatan aktor eksternal dalam menentukan arah kebijakan perang.

​”Persoalan ini tidak hanya berada di tangan Riyadh. Saudi memang menjadi pihak yang berada di garis depan perang melawan Yaman, tetapi keputusan politik terbesar ada di Washington,” tulis Dina dalam pernyataannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan