Sepuluh Hari Tanpa Delapan Korban, Operasi SAR KM Arupadhatu I Dihentikan

Dokumentasi hari keenam, tim SAR Lampung kembali menyisir laut dari Bakauheni hingga Sangiang mencari 5 jurnalis dan 3 awak kapal yang hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) di perairan Selat Sunda. (BASARNAS)

Operasi SAR dihentikan setelah 523 personel menyisir 8.509 mil laut persegi. Delapan korban masih hilang dan pencocokan DNA jenazah Enggano belum selesai.

Operasi pencarian lima jurnalis dan tiga awak KM Arupadhatu I yang hilang di perairan Selat Sunda resmi dihentikan setelah berlangsung selama sepuluh hari.

Penutupan operasi diumumkan Gubernur Banten Andra Soni bersama Basarnas di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Kamis petang, 17 September 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menyimpulkan pencarian intensif melalui darat, laut, dan udara belum menghasilkan petunjuk yang dapat memastikan keberadaan kapal maupun delapan orang di dalamnya.

Bacaan Lainnya

“Karena sudah dinilai tidak efektif, dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan dan pertolongan ini dinyatakan dihentikan,” kata Andra.

Penghentian operasi tidak mengubah status delapan orang tersebut. Mereka masih tercatat sebagai orang hilang karena belum ditemukan bukti yang dapat memastikan keberadaan atau kondisi mereka.

Sebanyak 523 Personel Dikerahkan

Pada hari kesepuluh, tim gabungan mengerahkan 523 personel untuk melakukan penyisiran melalui laut, udara, dan daratan pesisir.

Luas jangkauan pencarian mencapai sekitar 8.509 mil laut persegi. Area tersebut mencakup perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, pulau-pulau di Selat Sunda, pesisir Banten dan Lampung, hingga perluasan pemantauan ke arah Bengkulu.

Tim menggunakan kapal pencarian dan pertolongan, kapal TNI Angkatan Laut, kapal polisi, perahu cepat, helikopter, pesawat, serta pesawat nirawak. Penyisiran darat juga dilakukan di garis pantai untuk mengantisipasi kemungkinan korban atau bagian kapal terbawa arus.

Meskipun wilayah pencarian terus diperluas, tim gabungan tidak menemukan KM Arupadhatu I maupun kedelapan orang yang berada di kapal tersebut.

Sebanyak 13 Objek Dinyatakan Tidak Berkaitan

Selama operasi berlangsung, petugas menemukan sedikitnya 13 objek terapung, antara lain jaket berwarna oranye, helm, jeriken, terpal, dan galon.

Seluruh temuan itu kemudian diperiksa oleh Direktorat Polisi Perairan dan Udara Polda Banten. Hasil verifikasi menyatakan benda-benda tersebut tidak memiliki hubungan yang dapat dipastikan dengan fisik maupun perlengkapan KM Arupadhatu I.

Dengan demikian, temuan barang di sejumlah lokasi tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk menentukan posisi terakhir kapal maupun penumpangnya.

Lima Jurnalis Masih Hilang

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunas dari LKBN ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.

Tiga orang lainnya adalah Warta selaku nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.

Mereka dilaporkan hilang kontak pada Senin, 7 September 2026, ketika melakukan perjalanan peliputan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dari wilayah Pandeglang.

Laporan kehilangan kemudian ditindaklanjuti dengan operasi SAR yang berlangsung selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari atas pertimbangan keluarga serta kemungkinan ditemukannya petunjuk baru.

Pemantauan Tetap Berlangsung

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad menegaskan bahwa penghentian operasi intensif bukan berarti seluruh pemantauan berhenti.

Informasi mengenai KM Arupadhatu I tetap disebarkan melalui sistem radio operasi pantai dan Vessel Traffic Service. TNI Angkatan Laut, Polairud, nelayan, dan kapal-kapal yang melintasi Selat Sunda juga diminta melaporkan setiap temuan yang diduga berkaitan dengan kapal tersebut.

“Apabila ada tanda-tanda, operasi SAR akan dinyatakan dibuka kembali,” kata Al Amrad.

Operasi baru dapat diaktifkan kembali apabila terdapat petunjuk terkonfirmasi, antara lain penampakan kapal, temuan korban, barang dengan ciri khusus, atau informasi lain yang dapat menentukan sektor pencarian.

DNA Jenazah Enggano Masih Diperiksa

Di luar operasi Selat Sunda, Tim Disaster Victim Identification Polda Bengkulu masih mencocokkan DNA keluarga korban dengan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Jenazah pria itu ditemukan pada Sabtu, 12 September 2026. Jenazah kemudian diterbangkan dari Pulau Enggano ke Kota Bengkulu pada Senin, 14 September 2026, untuk keperluan pemeriksaan forensik.

Polda Banten telah menyerahkan data antemortem keluarga korban kepada Polda Bengkulu. Hingga operasi SAR ditutup, belum terdapat hasil yang memastikan jenazah tersebut merupakan salah satu penumpang KM Arupadhatu I.

Karena proses identifikasi belum selesai, temuan jenazah di Enggano tidak dapat dinyatakan berkaitan dengan rombongan jurnalis. Polisi memperkirakan pemeriksaan DNA memerlukan waktu hingga sekitar dua pekan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan