‘Kondangan Boleh Kurangin, Korupsi Jangan Kerjain’: Pesan Moral yang Dihapus dari Lagu ‘Hari Lebaran’

Banyak masyarakat Indonesia hapal lagu ikonik yang biasanya hadir di setiap perayaan Idulfitri: Hari Lebaran. Lagu yang digubah musisi jenius Indonesia, Ismail Marzuki. Namun, ada bagian penting dalam lagu itu yang sebenarnya hilang: pesan agar jangan korupsi!

__________

Lagu Hari Lebaran yang legendaris itu direkam pertama kali di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 1954. Dinyanyikan oleh Suyoso Karsono.

Bait awalnya menggambarkan suasana lebaran di Indonesia yang riang gembira, di mana masyarakat merayakan Hari Kemenangan dengan bermaaf-maafan. Namun, pada bait berikutnya, Ismail menuliskan kritik sosial dan politik di pertengahan tahun 1950an.

Bacaan Lainnya

Beberapa penyanyi tidak menyanyikannya sampai tuntas, tetapi mengambil bait yang pendek saja: “Minal azin wal faizin maafkan lahir dan batin, selamat para pemimpin rakyatnya makmur terjamin.”

Padahal, Ismail Marzuki menulis lagu ini dengan penuh makna, terutama dalam bait “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.” Lirik ini sebenarnya masih ada terusannya, dan justru pada bagian kelanjutan itulah yang membawa pesan moral yang sangat penting.

Lirik ini mencerminkan realitas sosial pada masa itu, di mana kondisi ekonomi rakyat masih jauh dari sejahtera.

Setelah kemerdekaan, Indonesia menghadapi situasi ekonomi yang sulit, dengan tingkat pengangguran tinggi dan ketimpangan sosial yang mencolok. Salah satu kebijakan ekonomi yang diterapkan pada masa itu adalah Sumitro Plan, yang dirancang oleh Menteri Perdagangan Soemitro Djojohadikusumo dalam Kabinet Natsir (1950-1951).

Program ini bertujuan untuk membangun industri dasar guna mendorong pertumbuhan ekonomi pribumi.

Sayangnya, kebijakan ini justru membuka peluang bagi praktik korupsi di kalangan pejabat negara. Situasi inilah yang kemudian menjadi kritik tajam dalam lagu Hari Lebaran, terutama pada bagian lirik, “Kondangan boleh kurangin, korupsi jangan kerjain.”

Pada era Orde Baru, dua bait terakhir lagu Hari Lebaran dihapus karena dinilai tidak sesuai dengan kepentingan pemerintah saat itu. Penguasa khawatir lirik tersebut dapat menimbulkan interpretasi negatif terhadap stabilitas pemerintahan. Meski masih boleh dinyanyikan, bagian lirik yang mengandung kritik sosial kerap disensor dalam berbagai acara resmi.

Lagu ini juga menjadi catatan penting dalam sejarah musik Indonesia, karena merupakan salah satu lagu pertama yang secara eksplisit menggunakan kata “korupsi” dalam liriknya.

Selanjutnya, ada juga lirik lagu yang menarik pada bagian akhir ada bait, yang berbunyi, “Kondangan boleh kurangin, Korupsi jangan kerjain“.

Bait sindiran ini, tampaknya, masih relevan sampai sekarang. Berupa ajakan hidup sederhana, tidak pamer harta atau flexing, dan jangan korupsi.

Menurut Nino Leksono, dalam Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman (2014), alasan Ismail menyematkan kejadian korupsi di lagu idulfitri itu disebabkan oleh situasi zaman itu.

Di tahun-tahun lagu tersebut lahir, menurut Nino, memang korupsi sangat merajalela. Para pejabat pemerintahan sering melakukan aksi suap-menyuap yang menguntungkan dirinya sendiri.

Pada 1950-an banyak program-program kabinet tidak berjalan mulus karena korupsi. Biasanya perilaku korupsi dilakukan oleh para politisi, birokrat, dan pengusaha. Akibat sudah sistematis, korupsi di era Orde Lama pun sulit dibasmi. Perilaku tidak terpuji inilah yang jadi sorotan Ismail Marzuki dalam lagu Selamat Hari Lebaran.

Ninok Leksono menyebut, Ismail secara tidak langsung ingin turut serta mengajak masyarakat memberantas korupsi. Dia geram karena korupsi tak kunjung dibasmi dan masih merajalela.

Atas dasar ini, dia berupaya membuat lagu populer untuk menarik masyarakat. Namun, seiring waktu, upaya Ismail itu gagal terwujud karena korupsi masih merajalela.

Menariknya, seiring pergantian kekuasaan ke era Orde Baru, lirik lagu yang menyinggung korupsi itu dihapus oleh penyanyi lain. Begitu juga di masa sekarang. Penyanyi-penyanyi yang mendaur ulang lagu tersebut tak lagi menyisipkan pesan korupsi sesuai lirik asli.

Lagu ini tidak hanya menghidupkan suasana Lebaran, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang keadilan sosial yang tetap relevan hingga saat ini.

Sementara kondisi ekonomi masih penuh tantangan dan isu korupsi belum sepenuhnya hilang, lagu ini tetap menjadi pengingat akan pentingnya integritas dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia! ***

Pos terkait