Benarkah Halalbihalal Berawal dari Pedagang Martabak Solo?

Ilustrasi halal bihalal. - AI Generate
Halalbihalal bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan tradisi asli nusantara dengan sejarah unik mulai dari pedagang martabak hingga strategi politik.

Setiap Idulfitri tiba, masyarakat Indonesia selalu disibukkan dengan satu agenda wajib: Halalbihalal. Tradisi ini biasanya diisi dengan kegiatan bersilaturahmi ke rumah tetangga, saudara, dan kerabat untuk saling memaafkan.

Meski terdengar seperti istilah dari Timur Tengah, Halalbihalal adalah tradisi murni produk kebudayaan Indonesia yang tidak akan ditemukan di negara lain.

Secara linguistik, kata ini memang menyerap istilah Arab halal dengan sisipan bi (dengan). Namun, Halalbihalal kini telah dibakukan dalam KBBI yang bermakna acara maaf-memaafkan setelah puasa Ramadan.

Bacaan Lainnya
Tiga Versi Asal-usul Halalbihalal

Sejarah mencatat setidaknya ada tiga versi populer mengenai lahirnya istilah dan kegiatan ini:

1. Strategi Dagang Martabak Solo (1935)

Versi pertama menyebutkan istilah ini dipopulerkan oleh pedagang martabak asal India di Taman Sriwedari, Solo. Saat itu, sang pedagang mempromosikan dagangannya dengan teriakan “martabak Malabar, halal bin halal”.

Istilah “halal bin halal” kemudian berubah menjadi “halalbehalal” dan populer di kalangan warga Solo untuk menyebut kegiatan silaturahmi saat Lebaran.

2. Strategi Politik Bung Karno dan KH Wahab Hasbullah (1948)

Pada tahun 1948, Indonesia mengalami krisis persatuan akibat konflik elit politik. Atas saran KH Abdul Wahab Hasbullah, Bung Karno mengundang para tokoh politik ke Istana Negara untuk bersilaturahmi pada hari raya.

Kiai Wahab mengusulkan istilah “Halalbihalal” sebagai tajuk acara tersebut untuk melunakkan ego para pemimpin bangsa agar saling menghalalkan kesalahan masa lalu. Sejak saat itu, Halalbihalal resmi menjadi tradisi kenegaraan.

3. Pertemuan Pangeran Sambernyawa (Pangeran Mangkunegara I)

Jauh sebelum itu, tradisi serupa diyakini sudah ada di lingkungan keraton. Untuk efisiensi waktu, Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan serentak antara raja, punggawa, dan prajurit setelah salat Idulfitri.

Acara ini diisi dengan tradisi sungkem massal yang menjadi cikal bakal Halalbihalal modern di kalangan organisasi Islam.

Pos terkait