Digelar 7 Hari Setelah Idulfitri, Lebaran Ketupat Sudah Ada Sejak Abad ke 15

Ilustrasi Lebaran Ketupat. - Samudrafakta/AI Generate
Masyarakat Jawa Timur merayakan Lebaran Ketupat sebagai simbol kemenangan spiritual melalui filosofi “Laku Papat” yang diperkenalkan Walisongo.

Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan kembali menggeliat di tengah masyarakat Jawa, khususnya Jawa Timur, tepat tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri. Perayaan yang telah eksis sejak abad ke-15 ini bukan sekadar ajang makan bersama, melainkan simbol akulturasi budaya agraris Austronesia dengan nilai-nilai Islam yang dibawa oleh Walisongo.

Secara genealogis, anyaman ketupat berakar dari penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan. Namun, di tangan Sunan Kalijaga, makna tersebut bertransformasi menjadi media dakwah yang sarat filosofi etika sosial Islam.

Transformasi Magis Menjadi Filosofis

Salah satu poin krusial dalam tradisi ini adalah perubahan makna Janur. Dahulu dianggap sebagai jimat pelindung, para penyebar Islam mengubahnya menjadi akronim jatining nur (hati nurani) atau ja’a al-nur (datangnya cahaya).

Bacaan Lainnya

Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat melalui konsep “Laku Papat” atau empat tindakan utama bagi umat muslim pasca-Ramadan. Keempat tindakan tersebut adalah Lebar (menyelesaikan puasa), Lebur (menghapus dosa melalui maaf), Luber (berbagi sedekah), dan Labur (kembali ke kemurnian diri).

“Kupatan adalah bentuk sublimasi dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Indonesia. Maknanya mengajarkan manusia bersyukur, bersedekah, dan menjalin silaturahmi,” ujar budayawan Zastrouw Al-Ngatawi sebagaimana dikutip dari berbagai literasi budaya.

Mitos dan Keyakinan Lokal

Hingga kini, prosesi pembuatan ketupat masih dibarengi dengan berbagai keyakinan lokal yang unik. Di beberapa wilayah, masyarakat percaya bahwa membuat ketupat tidak boleh dilakukan dalam keadaan marah (nesu) karena dikhawatirkan nasi tidak akan matang sempurna.

Selain itu, terdapat tradisi menggantung ketupat matang di dapur atau pintu depan rumah sebagai simbol keberkahan. Penggunaan janur berwarna kuning juga menjadi identitas budaya pesisiran Jawa untuk membedakan diri dari simbol warna hijau Timur Tengah maupun merah Asia Timur pada masa Kesultanan Demak.

Lebaran Ketupat tetap lestari sebagai bukti sejarah bagaimana Islam masuk ke Nusantara tanpa menghapus struktur fisik budaya lokal, melainkan mengisi ruang-ruang tradisi tersebut dengan napas spiritualitas yang baru.***

Pos terkait