Kenapa Kita Minder dengan Budaya Sendiri?

Ilustrasi anak muda akrab dengan budaya global, sementara warisan sendiri kian asing di negeri yang kaya identitas. AI GENERATE
Sebanyak 53,5 persen orang Indonesia akrab dengan budaya Korea — tapi 27,2 persen asing dengan budaya bangsanya sendiri. Ini bukan soal selera. Ini warisan penjajah yang belum selesai.

Coba sebutkan satu tarian adat dari Sulawesi Tenggara. Satu saja. Tidak bisa? Anda tidak sendirian. Dan itulah masalahnya.

Sementara nama-nama grup K-pop dan judul drakor tersimpan rapi di kepala, warisan budaya negeri sendiri justru terasa asing. Riset kandidat doktor Harvard Gangsim Eom mencatat fakta yang tak nyaman: hanya 15,8 persen orang Indonesia yang merasa akrab dengan budaya daerah lain di negerinya sendiri. Lebih dari seperempatnya — 27,2 persen — mengaku asing dengan budaya bangsanya sendiri.

Ini bukan soal tren. Ini soal luka yang ditanamkan jauh sebelum kita lahir.

Bacaan Lainnya
Bukan Salahmu — Tapi Tetap Jadi Masalahmu

Belanda sudah pergi tiga generasi lalu. Tapi pekerjaan mereka yang paling halus masih berjalan sempurna: meyakinkan bangsa terjajah bahwa milik orang lain selalu lebih baik dari milik sendiri. Frantz Fanon menyebutnya psychological colonization. 

American Psychological Association mengenalnya sebagai colonial mentality. Para peneliti di Indonesia bahkan menemukan bahwa standar kecantikan kita secara terukur masih diadaptasi dari pandangan kolonial.

Dulu kita mengagumi Eropa. Kini objeknya berganti — Korea, Jepang, Hollywood. Tapi mekanisme psikologisnya tidak bergerak satu inci pun.

Indonesia bukan bangsa yang miskin budaya. Ini bangsa dengan lebih dari 200 bahasa lokal dan kekayaan seni yang tak terhingga — dengan 25 juta orang yang menggantungkan hidup pada industri kreatif. Modalnya nyata. Yang kurang bukan kemampuan, melainkan kepercayaan bahwa semua itu layak diperjuangkan sekeras Hallyu diperjuangkan Korea.

Pertanyaannya bukan lagi apakah mentalitas ini ada. Pertanyaannya: seberapa dalam kita mau mengakuinya — dan kapan kita mulai memutusnya?

Selengkapnya baca di sini.

Pos terkait