Karinding Bukan Ultrasonik, tapi Tetap Brilian

Karinding bukan alat ultrasonik, tetapi kecerdasan akustik petani Sunda dalam membaca sawah, hama, dan bunyi alam. ILUSTRASI AI GENERATE
Ratusan tahun sebelum ilmuwan bicara soal akustik biologis, petani Sunda sudah mengusir hama dari sawah dengan sebilah bambu dan sebuah melodi. Tapi ada satu klaim yang beredar luas tentang karinding—dan sains bilang itu salah.

Di hamparan sawah Tatar Sunda, ada teknologi yang bekerja diam-diam selama berabad-abad. Bentuknya sederhana: sepotong bambu atau pelepah aren seukuran jari. Namanya karinding. Petani memainkannya sambil menunggui padi, bersahutan dari satu sudut sawah ke sudut lain. Tikus menjauh, wereng terganggu, burung pipit enggan mendekat.

Bukan cerita rakyat biasa. Naskah Pendakian Sri Ajnyana abad ke-16 sudah mencatat keberadaannya. Dan sains modern, pelan-pelan, mulai membenarkan prinsip di baliknya.

Studi dari Politeknik Negeri Jember menemukan tikus mengalami stres dan berhenti makan ketika terpapar gelombang 50 kilohertz. Riset lain di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya mencatat frekuensi 86 kilohertz mampu mematikan 78 persen jentik nyamuk hanya dalam satu jam. 

Bacaan Lainnya

Kesimpulannya sama: sistem pendengaran hama bisa dikacaukan oleh gelombang suara tertentu. Karinding, jauh sebelum istilah itu ada, sudah menerapkan prinsip tersebut.

Tapi di sini ceritanya jadi menarik—sekaligus sedikit rumit.

Klaim yang paling sering beredar menyebut karinding bekerja karena memancarkan gelombang ultrasonik. Klaim itu keliru. Ultrasonik adalah suara di atas 20 kilohertz, di luar batas pendengaran manusia. Kalau karinding benar ultrasonik, suaranya tak akan pernah sampai ke telinga siapa pun. Faktanya, suara karinding terdengar jelas—bahkan bisa memancing emosi pendengarnya.

Lalu bagaimana karinding benar-benar bekerja? Mekanismenya lebih halus dari sekadar frekuensi tinggi—dan justru di situlah kecerdasan sesungguhnya tersimpan.

Selengkapnya baca di sini.

Pos terkait