Jauh sebelum Isaac Newton menuliskan hukum-hukumnya, petarung Madura sudah mempraktikkannya di gelanggang tanah — lewat sabetan rotan, irama gendang, dan tubuh yang dilatih selama bertahun-tahun. Sains itu nyata. Hanya namanya yang berbeda.
Sore itu, lapangan tanah di Kecamatan Batuputih, Sumenep, berubah menjadi arena yang tak biasa. Dua lelaki berdiri berhadapan — telanjang dada, sarung melilit pinggang, kaki telanjang menginjak bumi. Di tangan kanan masing-masing, tergenggam satu bilah rotan kepang sepanjang sekitar 110 sentimeter.
Mereka berputar perlahan, menghentakkan kaki seperti sedang menari, lalu — swiiit — rotan itu melayang. Penonton bergemuruh. Irama ghambang dan dhuk-dhuk menghentak makin keras.
Itulah Ojhung: tradisi seni tarung khas Madura yang, menurut budayawan Sumenep Edhi Setiawan, diperkirakan sudah ada sejak masa pemerintahan Aria Wiraraja pada abad ke-13 — empat abad sebelum Isaac Newton lahir.
Yang mengejutkan bukan sekadar usianya. Kajian etnosains yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan MIPA mengidentifikasi sederet konsep ilmiah yang tersimpan dalam setiap gerakannya: Hukum III Newton, gelombang bunyi, tekanan, momen inersia, hingga mekanisme adaptasi jaringan kulit terhadap benturan berulang. Semuanya dipraktikkan, bukan dipelajari dari buku teks.
Ketika seorang petarung menangkis sabetan rotan dengan lengan kiri yang dibungkus kain tebal, ia sedang mendistribusikan gaya reaksi ke area yang lebih luas — persis seperti yang diajarkan fisika modern. Cara menggenggam rotan dengan tali sisal yang disebut lopalo pun bukan sekadar estetika; itu adalah solusi tekanan yang ditemukan lewat ratusan tahun trial and error di gelanggang tanah.
Musik pengiring ternyata juga bukan sekadar latar. Penelitian dari Universitas Negeri Malang (2025) menemukan bahwa irama ghambang dan dhuk-dhuk secara aktif membentuk ritme gerak petarung — memengaruhi detak jantung, ketegangan otot, bahkan waktu reaksi. Leluhur Madura tidak mengenal istilah “frekuensi resonansi”, tapi mereka tahu persis: tanpa dhuk-dhuk yang tepat, petarung tidak bisa masuk ke “zona”-nya.





