PMKNU Cirebon menjadi sorotan setelah sejumlah tokoh NU hadir dalam forum kaderisasi yang beririsan dengan dinamika menuju Muktamar ke-35 NU.
Forum Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama atau PMKNU di Hotel Aston Cirebon, 13–17 Mei 2026, menyita perhatian karena dihadiri sejumlah figur penting NU menjelang Muktamar ke-35.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya hadir bersama KH Imam Jazuli, Yusuf Chudlori, Gus Miftah, dan Gus Ipang. Kehadiran mereka membuat forum kaderisasi itu dibaca lebih luas sebagai arena konsolidasi internal.
Sorotan kian kuat setelah aturan kaderisasi baru menempatkan PMKNU sebagai salah satu jenjang penting bagi calon pengurus harian. Peraturan Perkumpulan NU Nomor 2 Tahun 2025 disebut sebagai perubahan atas aturan kaderisasi sebelumnya.
Nama Baru Menguat
Nama KH Imam Jazuli ikut mencuat setelah survei Institut Nahdliyin Nusantara atau Insantara menempatkannya dalam jajaran kandidat Ketua Umum PBNU periode 2026–2031. Survei itu berlangsung pada 20 Februari hingga 15 Maret 2026.
Survei tersebut memetakan kandidat potensial Ketua Umum PBNU serta masalah mendesak yang dihadapi PBNU menjelang Muktamar ke-35, yang disebut akan digelar antara Juli atau Agustus 2026.
Aktivis NU Cirebon, Mamang Hairudin, menilai PMKNU di Cirebon menyimpan pesan politik yang lebih besar dari sekadar agenda kaderisasi. Ia menyebut forum itu sebagai “Muktamar Kecil” karena mempertemukan sejumlah figur berpengaruh.
“PMKNU di Aston ini bukan lagi kaderisasi biasa, ini adalah ‘Muktamar Kecil’ di Cirebon,” kata Mamang dalam keterangan tertulisnya.
Regenerasi Jadi Sorotan
Dinamika itu membuat persaingan menuju Muktamar NU 2026 diperkirakan semakin terbuka. Di satu sisi, Gus Yahya hadir sebagai ketua umum aktif PBNU. Di sisi lain, sejumlah nama baru mulai masuk dalam radar dukungan warga dan pengurus NU.
Peneliti Insantara, Wildan Efendy, menilai kepatuhan para tokoh mengikuti PMKNU menunjukkan ketaatan struktural. Namun, momentum itu juga dapat dibaca sebagai terbentuknya poros baru menjelang kontestasi PBNU.
Pengamat Politik Pesantren, A Mudzakkir, melihat kehadiran tokoh muda seperti Gus Yusuf, Gus Miftah, dan Gus Ipang membuat isu regenerasi kepemimpinan NU semakin mengemuka.
Muktamar ke-35 NU kini tidak hanya dipandang sebagai forum pergantian kepengurusan, tetapi juga ujian bagi arah kaderisasi, regenerasi, dan konsolidasi organisasi terbesar Islam di Indonesia tersebut.***





