Kiai sepuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Musta’in Syafi’ie menyebut politik uang jelang Muktamar ke-35 NU sebagai realitas. Alasan uang transportasi dinilai sebagai kedok politik transaksional.
Kiai sepuh Nahdlatul Ulama dari Pondok Pesantren Tebuireng, KH Musta’in Syafi’ie, menyatakan politik uang jelang Muktamar ke-35 NU bukan lagi desas-desus. Ia menyebutnya sebagai realitas tak terbantahkan di lapangan. Praktik ini dinilai mencoreng integritas organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
KH Musta’in menyampaikan hal ini dalam diskusi bertajuk “Stop Politik Transaksional di Muktamar NU” di Jakarta Pusat pada Selasa, 18 Agustus 2026. “Ini bukan isu lagi, tapi realita, ada yang ngaku,” kata dia.
Kedok Uang Transportasi
Ia menolak keras argumen bahwa uang yang beredar tersebut sekadar ongkos transportasi bagi para peserta. Menurut dia, jika tujuannya murni untuk transportasi, panitia penyelenggara seharusnya menyerahkan dana itu secara transparan.





