Nasyiatul Aisyiyah Hadirkan Wayang Perempuan

​Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (NA) bersiap menggelar peringatan Milad ke-95 pada Sabtu, 16 Mei 2026, di Aula Masjid Ahmad Dahlan, Yogyakarta. - TV MU Yogyakarta
Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah menghadirkan dakwah kultural lewat wayang perempuan sekaligus memperkuat isu keluarga, lingkungan, dan ruang digital aman.

Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah menggelar resepsi Milad ke-95 di Aula Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu, 16 Mei 2026.

Peringatan ini tidak hanya menjadi seremoni organisasi, tetapi juga ruang konsolidasi gerakan perempuan muda Muhammadiyah melalui dakwah kultural, isu keluarga, lingkungan, dan pelindungan anak di ruang digital.

Dakwah Lewat Budaya

Pagelaran wayang kulit dengan dalang perempuan menjadi sorotan utama. Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, menyebut pilihan itu sebagai penegasan bahwa Islam tidak berjarak dari seni dan budaya.

Bacaan Lainnya

“Hadirnya pagelaran wayang dengan dalang perempuan menunjukkan bahwa Nasyiatul Aisyiyah menghadirkan dakwah kultural yang inklusif. Ini mengonfirmasi bahwa Islam tidak anti terhadap seni dan budaya,” kata Ariati, Sabtu, 16 Mei 2026.

NA mengusung tema “Srikandi Penjaga Peradaban”. Tema itu dipakai untuk menegaskan peran perempuan muda sebagai penjaga nilai, ilmu, keluarga, dan arah perubahan sosial.

Ariati juga menekankan pentingnya kader NA meningkatkan kapasitas di tengah digitalisasi dan internasionalisasi gerakan Muhammadiyah. Ia menyebut usia 95 tahun sebagai fase matang untuk memperluas kebermanfaatan organisasi.

Keluarga dan Ruang Digital

Milad ke-95 NA juga menautkan isu keluarga muda dengan tantangan ruang digital. Pemerintah sebelumnya menerbitkan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak.

Aturan itu mengatur pelindungan anak dalam sistem elektronik, pengawasan penyelenggara sistem elektronik, sanksi administratif, serta peran kementerian, lembaga, dan masyarakat.

Kemen PPPA menyebut pelindungan anak di ruang digital perlu ditopang literasi, pendampingan orang tua, serta kolaborasi lintas sektor. Data pemerintah menunjukkan akses digital anak terus meningkat, sementara risiko perundungan siber dan kekerasan seksual digital ikut menguat.

Di sisi lain, NA juga membawa agenda lingkungan melalui gerakan Green Nasyiah. Program ini menjadi bagian dari sepuluh program unggulan NA menuju visi Keluarga Muda Tangguh.

Menjelang satu abad, NA menempatkan perempuan muda bukan hanya sebagai penerus organisasi, tetapi juga aktor perubahan sosial. Milad ke-95 menjadi penegasan bahwa dakwah, budaya, keluarga, lingkungan, dan literasi digital berjalan dalam satu tarikan gerakan.***

Pos terkait