Kebiasaan Tertawa Sendiri Nonton Konten Receh Bahaya bagi Kesehatan Otak

Ilustrasi kebiasaan ketawa sendiri saat nonton konten receh bahayakan kesehatan otak. - gettyimages/ Tim Robberts
Tertawa sendiri saat menonton video pendek receh bisa menjadi alarm. Pakar UI mengingatkan kebiasaan ini dapat mengganggu fokus dan memori otak.

Kebiasaan tertawa sendiri saat menonton video pendek receh di media sosial kini perlu dibaca lebih hati-hati. Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc., mengingatkan pola itu bisa menjadi tanda awal brainrot.

Mengutip laporan Kompas, Agustino menyebut brainrot bukan sekadar lelucon internet. Meski bukan diagnosis medis resmi, fenomena ini merujuk pada penurunan kejernihan berpikir akibat konsumsi konten cepat, dangkal, dan minim tantangan secara berlebihan.

“Kalau kita sering ketawa dengan hiburan receh, hati-hati, itu brainrot,” kata Agustino, dikutip Jumat (22/5/2026).

Bacaan Lainnya
Video Pendek dan Jebakan Dopamin

Agustino menjelaskan, video pendek bekerja lewat sistem penghargaan otak. Setiap kali pengguna menggulir layar lalu menemukan potongan video lucu, otak mendapat dorongan rasa senang melalui dopamin.

Masalah muncul ketika pola itu terjadi berulang. Otak terbiasa mengejar rangsangan cepat, kejutan instan, dan kelucuan singkat. Akibatnya, seseorang makin sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan fokus panjang.

Dampaknya bisa terasa dalam keseharian. Membaca teks panjang terasa melelahkan, menonton penjelasan mendalam terasa membosankan, dan pikiran lebih mudah terdorong untuk kembali menggulir layar.

Anak dan Remaja Lebih Rentan

Agustino mengingatkan, risiko terbesar mengintai anak-anak dan remaja. Pada fase perkembangan otak, paparan konten dangkal secara terus-menerus dapat membuat mereka mudah bosan, sulit fokus belajar, dan lebih reaktif.

Ia juga menyoroti risiko gangguan daya ingat. Informasi yang datang terlalu cepat dan terputus-putus membuat otak kesulitan menyimpan pengalaman ke memori jangka panjang.

“Dalam jangka panjang, risiko gangguan perkembangan kecerdasan juga dapat meningkat,” ujar Agustino.

Namun, hiburan tidak selalu buruk. Agustino menegaskan, tertawa tetap sehat jika dikonsumsi secara seimbang. Yang perlu diwaspadai ialah ketika video pendek membuat seseorang terus mencari kesenangan instan dan berhenti berpikir.***

Pos terkait