Deteksi kelainan bawaan janin perlu dimulai sejak awal kehamilan karena organ vital mulai terbentuk pada trimester pertama.
Calon orang tua perlu melakukan pemeriksaan kehamilan sejak trimester pertama untuk mendeteksi risiko kelainan bawaan pada janin. Pada fase awal ini, organ-organ vital bayi mulai terbentuk sehingga skrining tidak sebaiknya menunggu usia kandungan memasuki trimester akhir.
Pesan itu disampaikan dr Rozi Aditya Aryananda SpOG SubspKFm PhD dalam penyuluhan “Skrining Detail Kehamilan: Kapan dan Mengapa?” pada kegiatan pengabdian masyarakat kolaboratif Universitas Airlangga bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
“Sebenarnya pada trimester pertama kita sudah bisa melihat apakah ada kelainan pada bayi. Karena itu, skrining tidak sebaiknya menunggu usia kehamilan sudah besar,” kata Rozi, Kamis (9/7/2026).

Rozi menjelaskan, perkembangan janin berlangsung sangat cepat sejak awal kehamilan. Pada usia sekitar enam minggu, jantung janin mulai terbentuk. Memasuki minggu kedelapan, kantong kehamilan telah berkembang menjadi janin dengan pembentukan otak yang makin jelas.
Pada usia kehamilan 10 hingga 13 minggu, berbagai risiko kelainan maupun sindrom mulai dapat teridentifikasi melalui skrining. Pemeriksaan laboratorium juga dapat menganalisis darah ibu hamil untuk mengetahui risiko kelainan kromosom pada janin.
Fokus Pemeriksaan Berbeda Tiap Trimester
Menurut Rozi, pemeriksaan kehamilan memiliki fokus berbeda pada setiap trimester. Pada trimester kedua, pemeriksaan diarahkan untuk mengevaluasi pembentukan organ janin, terutama otak, jantung, dan saluran pencernaan.
Saat memasuki trimester ketiga, fokus pemeriksaan bergeser pada pemantauan pertumbuhan janin, kesejahteraan bayi, serta persiapan persalinan.
“Begitu masuk trimester ketiga, fokusnya bukan lagi pembentukan organ, tetapi bagaimana bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta bagaimana mempersiapkan persalinan,” ujar Rozi.





