Obituari Prof. Hamim Ilyas, Sang Ulama Kasih Sayang

Prof. Hamim Ilyas, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. - Dok. PP Muhammadiyah
Duka mendalam mengiringi kepergian Prof. Hamim Ilyas. Ulama Muhammadiyah alumni Tambak Beras ini mewariskan Tauhid Rahamutiyah untuk dunia Islam.

​Kabar duka memecah keheningan Sabtu dini hari, 23 Mei 2026. Tepat pukul 01.40 WIB, napas terakhir Prof. Dr. H. Hamim Ilyas, M.Ag. berembus di Rumah Sakit Akademik UGM, Yogyakarta. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu berpulang setelah menjalani perawatan intensif.

​Kepergian sosok teduh ini menandai kehilangan besar. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengenangnya sebagai pribadi yang alim dan rendah hati. Jejak pemikiran serta laku hidupnya telah menenun benang-benang persaudaraan yang tak akan mudah lekang oleh waktu.

​Merajut Tradisi Tambak Beras dan Modernitas

​Lahir di kaki Gunung Merapi, Klaten, pada 1 April 1961, Hamim tumbuh menembus batasan kesederhanaan. Semangatnya untuk mendalami agama membawa langkah mudanya menuju Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras di Jombang. Sebagai salah satu sentra pendidikan Islam tradisional Nahdlatul Ulama (NU) terbesar di Jawa Timur, pesantren inilah yang memahat fondasi keilmuan klasiknya. Di sana, ia menyerap ilmu alat, meresapi fikih, dan menyelami tafsir secara mendalam.

Bacaan Lainnya

​Berbekal akar tradisi yang kukuh, ia merajut asa ke Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) dan melangkah tegak sebagai satu-satunya anggota keluarga yang menembus perguruan tinggi. Ia menuntaskan gelar sarjana, magister, hingga meraih gelar doktor dalam rumpun studi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

​Rangkaian panjang ini melahirkan garis intelektual yang amat khas. Hamim Ilyas tampil memukau sebagai jembatan yang menghubungkan khazanah pesantren klasik dengan nalar akademik Islam modern. Kepiawaiannya mengelola silang budaya dan keilmuan ini mengantarkannya pada pucuk pimpinan perumusan fatwa di Muhammadiyah.

​Menghidupkan Kasih Sayang Lewat Tauhid Rahamutiyah

​Bagi Muhammadiyah, Hamim adalah lokomotif gagasan. Namun, mahkotanya terletak pada rumusan Tauhid Rahamutiyah. Ia menolak membiarkan tauhid sekadar membeku sebagai doktrin ketuhanan di atas kertas. Hamim meniupkan napas kemanusiaan ke dalamnya, menjadikan tauhid sebagai sumber etika sosial yang berpusat pada rahmat atau kasih sayang.

​Ia membedah Surat Al-An’am ayat 12 dengan amat tajam. Hamim meyakini bahwa Allah menempatkan sifat kasih sayang (rahmah) sebagai fondasi utama di atas seluruh sifat dan asma-Nya. Konsekuensinya amat logis bagi manusia: umat Islam wajib menebarkan kelembutan dan kedamaian di bumi. Konsep teologi ini menghapus wajah agama yang kaku dan menghukum, lalu menggantinya dengan agama yang merangkul dan menyelamatkan. Gagasan inilah yang kini berdiri tegak sebagai pilar kokoh dalam rumah besar Islam Berkemajuan.

​Sang Ulama Fungsional yang Teduh

​Lebih dari seorang pemikir ulung, Hamim menerjemahkan teologinya ke dalam aksi nyata yang terukur. Tatkala memangku amanah sebagai Ketua Dewan Penasihat Lazismu PP Muhammadiyah, ia mendobrak pakem penyaluran zakat dan kurban.

​Ia merumuskan kebijakan agar zakat fitrah tidak sekadar habis tak bersisa pada malam takbiran, melainkan menjelma menjadi program pemberdayaan berkelanjutan. Hamim pula yang mendorong teknologi pengawetan daging kurban, salah satunya melalui program RendangMu. Berkat langkah taktis ini, daging kurban mampu menembus daerah-daerah terpelosok sepanjang tahun. Agama, di tangan Hamim Ilyas, benar-benar hadir secara fungsional untuk mengurai kemiskinan umat.

​Selain pengabdian sosialnya, ia ikut membidani lahirnya karya monumental Muhammadiyah, yakni Tafsir At-Tanwir 30 Juz. Proyek tafsir resmi yang disiapkan sebagai kado seabad Majelis Tarjih pada 2027 kelak.

​Sosok sederhana, tenang, dan pantang berkonfrontasi itu kini telah meletakkan penanya. Hamim Ilyas sukses menempatkan agama bukan sekadar deretan ritual sempit, melainkan kekuatan penyembuh luka sosial.

​Meski raganya tak lagi Membersamai, gema Tauhid Rahamutiyah, teladan kebersahajaannya, serta ribuan murid yang ia wariskan akan terus mengawal laju peradaban Islam di Indonesia.

​Selamat jalan, Ayahanda Hamim Ilyas. Semoga Allah SWT mendekapmu dalam luasnya kasih sayang-Nya, sebagaimana Engkau tanpa henti mengajarkan kemuliaan cinta-Nya kepada kami. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.***

Pos terkait