Jutaan anak muda Barat kini minum air panas, belajar gua sha, dan memuji kereta cepat Tiongkok. Bukan karena propaganda, melainkan karena kecewa pada negaranya sendiri. Tren chinamaxxing bukan sekadar estetika TikTok; ia adalah cermin retak dari dominasi budaya Amerika.
Pada Januari 2026, seorang kreator konten Tionghoa-Amerika berusia 23 tahun bernama Sherry Zhu mengunggah sebuah video pendek di TikTok. Isinya sederhana: ia bercanda bahwa siapa pun yang ingin “menjadi Tionghoa” harus mulai dengan minum air panas setiap pagi.
Video itu meraih 3,1 juta penayangan dan lebih dari 530.000 tanda suka dalam hitungan hari. Tapi, yang lebih mengejutkan bukan angkanya, melainkan respons jutaan orang yang berkata, saya mau coba.
Itulah titik nyala dari apa yang kini dikenal sebagai chinamaxxing: sebuah tren gaya hidup di mana anak-anak muda Barat secara sadar—dan sering kali ironis—mengadopsi kebiasaan, estetika, serta cara pandang khas Tiongkok.
Minum air hangat bukan es batu. Memakai sandal rumah seharian. Sarapan bubur bukan granola. Memuja sistem kereta cepat yang tepat waktu. Memuji kota-kota yang bersih dan tertata. Mengoleksi produk perawatan kulit berbasis pengobatan tradisional Tionghoa.
Di sudut TikTok yang ramai itu, kalimat-kalimat seperti “Kamu bertemu denganku di fase paling Tionghoa dalam hidupku” atau “Besok saya berubah jadi sangat Tionghoa” beredar seperti salam baru di antara generasi yang sudah lelah.
Dari Layar IShowSpeed ke Jutaan Umpan Algoritma
Benih tren ini sebenarnya ditanam lebih awal. Pada April 2025, streamer Amerika IShowSpeed—dengan sekitar 120 juta pengikut lintas platform—melakukan tur langsung ke seluruh Tiongkok. Ia menyiarkan perjalanannya secara live: menaiki kereta peluru, mencicipi kuliner jalanan Chengdu, menyaksikan pertunjukan kung fu, dan berdecak kagum di depan kendaraan amfibi bertenaga listrik di Shenzhen.
Komentarnya spontan dan tak terfilter: “China is different, bro.”
Kalimat itu menjadi meme. Tapi di baliknya tersimpan sesuatu yang lebih serius. Jutaan penonton muda Amerika menyaksikan negara yang selama ini digambarkan media mereka sebagai ancaman—dan yang mereka lihat justru kota-kota yang teratur, infrastruktur yang memukau, dan kehidupan sehari-hari yang terasa… normal. Bahkan aspiratif.




