Gubernur Sulteng Anwar Hafid memilih jalan sunyi lewat program “Berani Cerdas”. Rela tak populer tanpa proyek mercusuar demi beasiswa warganya, program ini justru viral diapresiasi publik hingga komika Arie Kriting.
Kemegahan sebuah kepemimpinan di daerah sering kali diukur dari jembatan yang membentang atau deretan beton pencakar langit yang baru diresmikan. Namun, bagi Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, monumen yang paling berharga untuk diwariskan tidak selalu terlihat oleh mata secara instan. Ia memilih jalan yang tak ubahnya sebuah kerja sunyi: membangun kualitas sumber daya manusia (SDM).
Di tengah arus pembangunan infrastruktur fisik yang kerap menjadi andalan unjuk keberhasilan pejabat, Anwar mengambil langkah berbeda melalui program bertajuk “Berani Cerdas”. Program ini merupakan wujud nyata Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng menjadikan SDM sebagai investasi masa depan. Tak main-main, anggaran senilai Rp 355,261 miliar disiapkan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan warganya.
Bagi Anwar, pendidikan bukanlah komoditas pelengkap, melainkan fondasi hakiki. Ia memegang teguh prinsip bahwa kesejahteraan rakyat senantiasa bermula dari bangku sekolah.
“Pendidikan adalah hak dasar rakyat. Siapapun pemimpin, kalau dia cinta kepada rakyatnya maka pendidikan ini menjadi utama dan pertama harus dia perhatikan,” ujar Anwar.
Merangkul Semua Kalangan
Gebrakan “Berani Cerdas” tidak sekadar slogan. Jangkauannya merengkuh mulai dari pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Pada tahun ini, Pemprov Sulteng menargetkan penerima manfaat yang masif: 47.000 mahasiswa jenjang S1, 100 mahasiswa S2, 20 mahasiswa doktoral (S3), 10 peserta pendidikan dokter spesialis, serta bantuan penyelesaian studi bagi 300 orang.
Perhatian Anwar juga menukik tajam pada masyarakat dari keluarga kurang mampu. Program ini membiayai SPP mereka, dengan peningkatan anggaran yang signifikan dari Rp 1,09 miliar pada 2025 menjadi Rp 1,75 miliar pada 2026. Terdapat pula alokasi khusus Rp 4,52 miliar untuk beasiswa Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa, serta Rp 21,56 miliar yang dikhususkan untuk pembiayaan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) dan Praktik Kerja Industri (Prakerin) bagi para siswa SMK.
Resonansi Publik dan Viral di Ranah Digital
Menariknya, jalan sunyi yang dipilih Anwar nyatanya tidak benar-benar sepi dari sorotan. Kebijakannya yang sangat berpihak pada pendidikan justru memicu gelombang perbincangan organik di ranah digital. Profil sosok Gubernur Sulteng ini dan programnya sempat menjadi perbincangan viral yang menghiasi kolom komentar di platform media sosial Threads milik komika dan tokoh publik, Arie Kriting.
Fenomena viralnya program ini seolah menegaskan bahwa di balik apatisme politik, masyarakat sebenarnya sangat merindukan sosok pemimpin yang peduli pada substansi dan kesejahteraan masa depan warganya, bukan sekadar etalase pembangunan fisik semata. Pengamat Politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, bahkan memandang kebijakan ini patut direplikasi dan dijadikan role model bagi daerah lain, terutama keberaniannya membiayai pendidikan hingga jenjang doktoral (S3).
Pada akhirnya, kepemimpinan Anwar Hafid membuktikan bahwa kesabaran berinvestasi pada kecerdasan manusia adalah warisan paling abadi. Benih-benih ilmu yang ia semai hari ini mungkin tidak akan bisa ia gunting pitanya dalam waktu dekat, namun kelak akan tumbuh menjadi hutan intelektual yang menopang ketangguhan daerahnya.
“Biarlah saya tidak populer dengan pembangunan yang mercusuar dan sebagainya,” tutur Anwar mantap. “Tapi saya ingin membangun sumber daya manusia Sulteng, karena saya punya keyakinan 20 tahun yang akan datang kalau program ini benar-benar sukses, maka Sulteng akan menjadi luar biasa. Itu keyakinan saya.”***





