Gaya hidup slow living semakin menarik perhatian masyarakat yang ingin menjalani kehidupan lebih sederhana, tenang, dan tidak terlalu terburu-buru.
Sejumlah kawasan di Indonesia dinilai memiliki kondisi yang mendukung gaya hidup tersebut, mulai dari biaya hidup, keamanan, hingga ketersediaan infrastruktur.
Analisis yang dikutip dari laman Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (1/9/2026), menyebut lima kawasan yang dinilai cocok untuk menjalani gaya hidup slow living. Kelima kawasan tersebut adalah Kedu Raya, Tasikmalaya Raya, Banyumas Raya, Malang Raya, dan Kedungsepur.
Kawasan-kawasan tersebut menawarkan kombinasi antara akses terhadap fasilitas perkotaan dan suasana yang relatif lebih tenang. Kondisi itu membuatnya berpotensi menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memperlambat ritme kehidupan, termasuk mereka yang mempersiapkan masa pensiun.
1. Kedu Raya
Kedu Raya menjadi salah satu kawasan yang masuk dalam daftar. Wilayah ini dikenal memiliki karakter perkotaan yang tidak sepadat kota-kota metropolitan, sekaligus tetap memiliki akses terhadap berbagai kebutuhan masyarakat.
Kombinasi biaya hidup dan suasana yang relatif tenang membuat kawasan ini dinilai menarik bagi masyarakat yang mencari alternatif kehidupan dengan ritme lebih santai.
2. Tasikmalaya Raya
Tasikmalaya Raya juga disebut sebagai kawasan yang potensial untuk menjalani slow living.
Kawasan ini menawarkan suasana yang lebih jauh dari kepadatan kota metropolitan. Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki akses terhadap fasilitas perkotaan sehingga kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi tanpa harus hidup dalam ritme kota besar.
3. Banyumas Raya
Banyumas Raya masuk dalam daftar berikutnya. Kawasan ini memiliki karakter wilayah yang memadukan pusat-pusat perkotaan dengan lingkungan yang lebih tenang.
Kondisi tersebut membuat Banyumas Raya menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang menginginkan keseimbangan antara aksesibilitas dan kualitas waktu dalam kehidupan sehari-hari.
4. Malang Raya
Malang Raya menjadi salah satu kawasan yang cukup populer untuk gaya hidup slow living.
Selain memiliki fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan pariwisata, kawasan Malang juga menawarkan lingkungan dengan suasana yang relatif nyaman.
Kota Malang dan wilayah sekitarnya juga kerap menjadi pilihan masyarakat yang menginginkan kehidupan yang lebih santai tanpa kehilangan akses terhadap fasilitas perkotaan.
5. Kedungsepur
Kedungsepur menjadi kawasan kelima dalam daftar tersebut. Kawasan metropolitan di Jawa Tengah ini memiliki jaringan perkotaan dan infrastruktur yang cukup berkembang.
Keberadaan fasilitas dan konektivitas antardaerah membuat kawasan ini tetap menawarkan aksesibilitas, sementara sejumlah wilayah di dalamnya memiliki karakter yang lebih tenang dibandingkan pusat metropolitan.
Slow Living Bukan Sekadar Tinggal di Kota yang Sepi
Slow living tidak semata-mata berarti pindah ke daerah yang jauh dari perkotaan atau menjalani kehidupan tanpa aktivitas.
Konsep ini merupakan gaya hidup yang mendorong seseorang meninjau kembali prioritas hidup dan membedakan kebutuhan yang benar-benar penting dari tekanan teknologi, kesibukan, serta pola hidup konsumtif.
Dengan demikian, slow living lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang menggunakan waktu secara sadar dan berkualitas, bukan sekadar seberapa jauh seseorang tinggal dari pusat kota.
Sejumlah kota seperti Solo, Malang, Yogyakarta, dan Salatiga juga populer di media sosial sebagai destinasi yang dianggap cocok untuk slow living. Biaya hidup yang relatif terjangkau, iklim yang nyaman, serta karakter masyarakat yang dinilai ramah menjadi beberapa alasan yang membuat kota-kota tersebut banyak dibicarakan.
Pada akhirnya, pilihan tempat untuk menjalani slow living tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing orang. Biaya hidup, akses kesehatan, pekerjaan, pendidikan, transportasi, keamanan, hingga kedekatan dengan keluarga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan tempat tinggal.***




