Budi Arie Setiadi membisikkan dugaan percepatan pergantian kekuasaan ke telinga Jokowi. Projo menyebutnya potongan video, tapi rekaman utuhnya belum juga dibuka ke publik.
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi melontarkan kalimat yang kini menyita perhatian publik: “Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?” Kalimat itu ia ucapkan di samping Joko Widodo dalam forum silaturahmi Projo, Minggu, 23 Agustus 2026, di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, bertepatan dengan peringatan HUT ke-12 organisasi relawan tersebut.
Video singkat berisi ucapan itu menyebar cepat di media sosial dua hari kemudian. Publik ramai membicarakannya sebagai sinyal “percepatan politik” menjelang Pemilu 2029, yang menurut jadwal resmi masih tiga tahun lagi.
Projo Sebut Video Terpotong
Sekretaris Jenderal DPP Projo Fredy Alex Damanik langsung merespons. Ia menegaskan video yang beredar “bukan merupakan video utuh”, melainkan cuplikan dari forum yang sedang memaparkan berbagai kemungkinan terkait situasi kebangsaan.
Forum tersebut, menurut Fredy, digelar dalam rangkaian silaturahmi Bulan Kemerdekaan antara Jokowi dan para relawannya. Diskusi internal itu disebut membahas pemetaan persoalan yang nantinya ingin disampaikan Jokowi kepada Presiden Prabowo Subianto.
Fredy juga mengklaim Jokowi merespons santai isu tersebut, dengan menyebut situasi baik-baik saja, ekonomi masih tumbuh, dan inflasi terkendali. Namun demikian, hingga berita ini ditulis, Projo belum merilis rekaman utuh forum tersebut ke publik, sehingga klaim “video terpotong” itu masih berstatus sepihak dan belum bisa diverifikasi independen.
Kritik Bermunculan dari Berbagai Kubu
Reaksi datang dari berbagai arah dengan nada yang berbeda-beda. Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus menuding ada motif di balik ucapan Budi Arie. “Kami melihat ada kepentingan terselubung dari Budi Arie, terkait narasi sepotong yang disampaikan dari cuplikan itu,” katanya, sembari mengingatkan latar belakang Budi Arie yang sempat dicopot Prabowo dari kursi Menteri Koperasi dan ditolak sejumlah partai.
Sudut pandang berbeda datang dari eks Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu. Lewat unggahan di media sosial X pada 24 Agustus 2026, ia menyebut ucapan Budi Arie sebagai penanda pergerakan faksi yang ia sebut “Geng SOP” dan “Poros SSB”. “Geng SOP plus poros SSB sedang bergerak,” tulisnya, sembari menuding Jokowi enggan sepenuhnya melepas kekuasaan.
Pengamat politik dan ekonomi Heru Subagia turut menanggapi, menyebut video itu seolah membawa sinyal peralihan kekuasaan. Kritik paling tajam datang dari politikus sekaligus pengacara Garda Prabowo, Ferdinand Hutahaean. “Solo ada di balik semua kegaduhan nasional saat ini, di balik upaya gerakan-gerakan mendongkel menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto,” katanya, sekaligus mengaitkan ucapan itu dengan rencana aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 27-28 Agustus 2026.
Ketiga pembacaan itu—dugaan kepentingan pribadi, manuver faksi lama, hingga sinyal peralihan kekuasaan—sama-sama merupakan interpretasi masing-masing pihak. Tidak satu pun terbukti secara langsung dari pernyataan tunggal Budi Arie di forum tersebut.
Status Hukum yang Masih Menggantung
Di luar polemik video, posisi hukum Budi Arie sendiri belum sepenuhnya bersih. Sebagai eks Menteri Komunikasi dan Digital, namanya berulang kali disebut dalam persidangan kasus judi online di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), termasuk tudingan bahwa ia menerima aliran uang dari jaringan yang membekingi situs judi daring semasa menjabat.
Meski demikian, Bareskrim Polri hingga kini tetap memposisikan Budi Arie sebagai saksi, bukan tersangka, dalam kasus tersebut. Ia telah beberapa kali diperiksa sebagai saksi sejak akhir 2024, sementara sejumlah terdakwa dalam kasus itu telah lebih dulu disidangkan.
Budi Arie sebelumnya membantah menerima apa pun dari hasil perjudian daring tersebut, meski namanya berulang kali muncul dalam dakwaan terhadap para terdakwa kasus itu.***





