Ia membedah Surat Al-An’am ayat 12 dengan amat tajam. Hamim meyakini bahwa Allah menempatkan sifat kasih sayang (rahmah) sebagai fondasi utama di atas seluruh sifat dan asma-Nya. Konsekuensinya amat logis bagi manusia: umat Islam wajib menebarkan kelembutan dan kedamaian di bumi. Konsep teologi ini menghapus wajah agama yang kaku dan menghukum, lalu menggantinya dengan agama yang merangkul dan menyelamatkan. Gagasan inilah yang kini berdiri tegak sebagai pilar kokoh dalam rumah besar Islam Berkemajuan.
Sang Ulama Fungsional yang Teduh
Lebih dari seorang pemikir ulung, Hamim menerjemahkan teologinya ke dalam aksi nyata yang terukur. Tatkala memangku amanah sebagai Ketua Dewan Penasihat Lazismu PP Muhammadiyah, ia mendobrak pakem penyaluran zakat dan kurban.
Ia merumuskan kebijakan agar zakat fitrah tidak sekadar habis tak bersisa pada malam takbiran, melainkan menjelma menjadi program pemberdayaan berkelanjutan. Hamim pula yang mendorong teknologi pengawetan daging kurban, salah satunya melalui program RendangMu. Berkat langkah taktis ini, daging kurban mampu menembus daerah-daerah terpelosok sepanjang tahun. Agama, di tangan Hamim Ilyas, benar-benar hadir secara fungsional untuk mengurai kemiskinan umat.
Selain pengabdian sosialnya, ia ikut membidani lahirnya karya monumental Muhammadiyah, yakni Tafsir At-Tanwir 30 Juz. Proyek tafsir resmi yang disiapkan sebagai kado seabad Majelis Tarjih pada 2027 kelak.
Sosok sederhana, tenang, dan pantang berkonfrontasi itu kini telah meletakkan penanya. Hamim Ilyas sukses menempatkan agama bukan sekadar deretan ritual sempit, melainkan kekuatan penyembuh luka sosial.
Meski raganya tak lagi Membersamai, gema Tauhid Rahamutiyah, teladan kebersahajaannya, serta ribuan murid yang ia wariskan akan terus mengawal laju peradaban Islam di Indonesia.
Selamat jalan, Ayahanda Hamim Ilyas. Semoga Allah SWT mendekapmu dalam luasnya kasih sayang-Nya, sebagaimana Engkau tanpa henti mengajarkan kemuliaan cinta-Nya kepada kami. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.***





