Polemik Plt Rektor UINSA, Guru Besar Pertanyakan Keabsahan Ijazah Lulusan

Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A. adalah seorang Guru Besar Sejarah Pemikiran Islam Klasik pada Fakultas Adab dan Humaniora di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan Prof. Dr. H. Abd A'la, M.Ag. adalah mantan Rektor UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya (2012-2018). (Kolase Istimewa) 

Forum Komunikasi Guru Besar UINSA Surabaya menyampaikan catatan kritis terkait pengisian jabatan oleh pelaksana tugas hingga legalitas penandatanganan ijazah menjelang wisuda.


​Juru bicara Forum Komunikasi Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Prof. Dr. H. Imam Ghazali Said menyampaikan catatan kritis mengenai tata kelola kampus. Langkah ini diambil merespons meluasnya kegelisahan sivitas akademika setelah aksi demonstrasi terbuka.

​Imam Ghazali menjelaskan bahwa forum tidak bermaksud mempersoalkan individu tertentu. Para profesor ingin memastikan proses transisi kepemimpinan berlangsung sesuai prinsip tata kelola perguruan tinggi yang baik. Catatan ini dirumuskan lewat diskusi intensif secara daring dan luring pada 10–11 Juli 2026.

​”Yang kami dorong adalah evaluasi kelembagaan secara menyeluruh. Pergantian kepemimpinan merupakan momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas akademik, dan membangun kembali kepercayaan seluruh sivitas akademika,” ujar Ghazali kepada wartawan, Kamis (16/7/2026).

Bacaan Lainnya

​Sorotan Jabatan Pelaksana Tugas

​Terkait kondisi internal kampus, forum mencermati sejumlah jabatan strategis yang masih diisi oleh pelaksana tugas (Plt). Kondisi ini terjadi setelah berakhirnya masa jabatan rektor terdahulu pada 6 Juni 2026.

​Forum menilai kekosongan pejabat definitif yang terlalu lama berpotensi memengaruhi efektivitas pengambilan keputusan serta kepastian administrasi. Selain itu, kejelasan hukum penandatanganan ijazah menjelang Wisuda ke-115 pada 25 Juli 2026 turut dipertanyakan.

​Evaluasi capaian kinerja UINSA periode 2022–2026 juga didesak dengan menggunakan indikator terukur. Mereka menyoroti mutu akademik, pengelolaan akreditasi institusi pada 2024, serta produktivitas publikasi ilmiah nasional yang berada di peringkat keenam data SINTA.

​Karakter Kepemimpinan Perguruan Tinggi

​Anggota Forum Komunikasi Guru Besar UINSA, Prof. Dr. Abd. A’la menekankan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi berbeda dengan organisasi bisnis. Menurut dia, universitas membutuhkan kepemimpinan yang mengedepankan kolegialitas, dialog, keterbukaan, dan kebebasan akademik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan