Menakar Arah Kebijakan ‘MPLS Ramah’ dan Format Baru Deep Learning

MPLS
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. - Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai menguji coba konsep MPLS Ramah dan pendekatan Deep Learning untuk menggeser paradigma pendidikan militeristik.


Transisi tahun ajaran baru di tingkat sekolah dasar dan menengah kini menjadi momentum krusial bagi penataan ulang ekosistem pendidikan nasional. Otoritas pusat mulai menyuntikkan doktrin ramah anak guna mengikis sisa-sisa kultur perundungan terselubung yang kerap membayangi masa orientasi siswa.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) harus bertransformasi menjadi peletak dasar budaya sekolah yang aman dan inklusif. Menurutnya, fase awal masuk sekolah ini memikul beban moral untuk membentuk karakter dasar peserta didik, bukan sekadar urusan administratif pengenalan ruang kelas.

Langkah operasional ini diwujudkan melalui kampanye “MPLS RAMAH”. Konsep ini memposisikan sekolah sebagai ruang tumbuh yang bebas dari tekanan psikologis, sehingga siswa dapat mengenali potensi diri secara merdeka sejak hari pertama sekolah.

Bacaan Lainnya

“Saya melihat harapan bangsa ada pada mereka. Sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, penuh kasih sayang, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya,” ujar Abdul Mu’ti saat meninjau pelaksanaan MPLS di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.

Menggeser Hafalan Lewat Deep Learning

Di luar pembenahan masa orientasi, kementerian tengah mempersiapkan cetak biru metode pembelajaran baru yang disebut Deep Learning. Pendekatan ini dirancang untuk mendobrak sistem belajar konvensional yang selama ini cenderung terjebak pada pengumpulan teks pengetahuan dan hafalan materi yang kaku.

Melalui Deep Learning, guru diarahkan untuk menuntun siswa menjadi manusia yang tercerahkan secara nalar serta mampu mengaplikasikan ilmu untuk menciptakan kedamaian sosial. Mu’ti menganalogikan proses mendidik ini sebagai ikhtiar jangka panjang yang membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi dan konsistensi seluruh ekosistem sekolah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan