Pemkot Surabaya terus melakukan perbaikan pelayanan di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie. Perbaikan mencakup sistem antrean, layanan farmasi, hingga ketersediaan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di RSUD Dr. Mohamad Soewandhie usai menerima aduan pelayanan melalui hotline “Lapor Cak Eri”. Ia menegaskan Pemkot akan terus menyempurnakan layanan rumah sakit tersebut.
“Jadi kami habis menerima aduan di hotline terkait pelayanan Rumah Sakit Soewandhie,” ujar Eri, Kamis (16/7/2026).
Eri menjelaskan poin pertama yang dievaluasi adalah penataan pasien yang mendaftar secara online. Pemkot akan memberikan tanda khusus bagi kelompok pasien untuk mengurai kepadatan.
“Jadi nanti kami beri tulisan di sini pasien yang daftar online. Kalau dia itu daftar online itu ada jamnya perkiraan dia masuk. Kalau jamnya itu jam 09.00 WIB sampai jam 09.20 WIB, maka dia boleh masuk mulai jam 08.30 WIB,” katanya.
Ia menegaskan aturan pembatasan waktu tunggu bertujuan menjaga kenyamanan dan ketertiban. “30 menit sebelum jam yang ada di daftar online itu, dia bisa masuk. Berarti kalau datangnya dia pagi, maka dia tidak boleh masuk ke dalam. Dia ada di ruang tunggu luar,” imbuhnya.
Pasien Non-Online dan Layanan Farmasi
Bagi pasien yang belum mendaftar secara daring, Eri meminta ketegasan waktu alur pelayanan serta kejujuran dalam mengantre. “Di Rumah Sakit Soewandhie ini juga menerima pasien yang tidak pakai daftar online. Tapi ya begitu, pasien yang tidak daftar online, datanglah pukul 11.00 WIB,” tegasnya.
Untuk mempercepat proses penyerahan obat, Eri meminta penambahan personel farmasi serta pemberitahuan jaminan waktu layanan berupa sanksi denda kompensasi.
“Lebih dari 15 menit obat non-racikan (rumah sakit) wajib bayar Rp50 ribu. Tapi kalau yang (obat) racikan, maksimal 30 menit. Jadi farmasi nanti kita tambah orang, kita percepat layanannya,” imbuhnya.
Kapasitas IGD dan Komunikasi Publik
Eri juga menggarisbawahi keterbatasan kapasitas ruang IGD. Jika tempat tidur telah penuh, ia meminta pemahaman warga jika harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.
“IGD ini ada batasannya (kapasitas), ada jumlah kasurnya. Berarti kalau sudah penuh, saya nyuwun tulung (minta tolong) warga Suroboyo sepurane (mohon maaf) sampeyan (anda) harus kami rujuk,” kata dia.
Untuk menjaga transparansi, pihak rumah sakit akan menyediakan monitor pemantau keterisian kamar yang dapat diakses langsung di area IGD.
Eri pun memberikan peringatan tegas kepada manajemen RSUD Soewandhie agar segera berbenah dan mengutamakan kualitas pelayanan, termasuk bagi pengguna jaminan kesehatan nasional.
“Kepada RSUD Dr Soewandhie, saya minta tolong, jangan sampai saya sidak lagi. RSUD Soewandhie harus cepat. Kami ingin warga Surabaya walaupun pakai BPJS, pelayanannya harus bagus,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Surabaya yang terus mengawal perbaikan layanan publik melalui kanal pengaduan.
“Terima kasih kepada warga Surabaya yang sudah lapor ke hotline, masukan anda memperbaiki kinerja rumah sakit di Surabaya, khususnya rumah sakit milik Pemerintah Kota Surabaya. Terus lapor di hotline, karena kesempurnaan pelayanan ini (bisa cepat) kalau ada yang mengawasi bersama khususnya warga Surabaya,” pungkasnya.***





