Wali Songo Tidak Hanya Satu Generasi

Prof. Dr. Hasanu Simon, dalam bukunya, Misteri Syekh Siti Jenar, halaman 52, bahkan menyebut adanya tim dakwah yang berjumlah sembilan tokoh, yang disebut “Wali Songo angkatan pertama”. Maksudnya, Wali Songo ini beda dengan Wali Songo generasi Sunan Ampel. Mereka datang ke Nusantara lebih dulu. Mereka adalah:

  1. Maulana Ishaq(Samarkand, sekarang Uzbekistan), ahli pengobatan. Maulana Ishaq berdakwah di Jawa Timur. Ketika menjelang wafat, ia hijrah ke Pasai dan akhirnya meninggal di sana.
  2. Maulana Ahmad Jumadil Kubra(Mesir).
  3. Maulana Muhammad Al-Maghribi (Maroko).
  4. Maulana Malik lsra’il (Turki), ahli tata negara.
  5. Maulana Muhammad Ali Akbar (Persia, sekarang Iran),ahli pengobatan.
  6. Maulana Hasanuddin (Palestina).
  7. Maulana Aliyuddin (Palestina).
  8. Syekh Subakir (Persia, sekarang Iran), ahli ruqyah; menaklukkan daerah angker yang dihuni Jin Jahat.

Menurut Prof.. Hasanu, tidak ada satu orang pun dari sembilan ulama penyebar Islam pra-Wali Songo generasi Sunan Ampel tersebut yang berasal dari pribumi Jawa. Menurut Prof. Hasanu, Sultan Muhammad I lah yang memberangkatkan tim dakwah itu ke Tanah Jawa.

Sementara menurut buku Wali Songo: Kenang-Kenangan Haul Agung Sunan Ampel ke 544, penerjemah K.H. Dachlan (cetakan tahun 1989, terbitan Panitia Haul Agung Sunan Ampel, Surabaya) dan catatan al-Habib Hadi bin Abdullah al-Haddar dan As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi al-Husaini, disebutkan bahwa anggota Dewan Wali Songo Angkatan pertama (1404 – 1435 M) terdiri dari beberapa tokoh, yaitu Maulana Malik Israil, Maulana Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, dan Maulana Aliyuddin yang bertugas di Jawa Barat. Sedangkan Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Al-Maghribi bertugas di Jawa bagian Timur. Adapun Syekh Subakir berkeliling Jawa menumbali tempat-tempat yang angker.

Bacaan Lainnya

Sedangkan Maulana Habib Luthfi Bin Yahya, Ketua Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) Indonesia, menyatakan bahwa banyak sejarah Wali Songo yang tidak terekam oleh para ahli sejarah. Misalnya, menurut Habib Luthfi, fakta bahwa sebenarnya Wali Songo ada lima generasi.

Generasi pertama dipimpin Syekh Jamaludin Husein atau Syekh Jumadil Kubro, yang membawahi delapan wali lainnya. Sebagiannya terpencar di Sumatera.

Generasi kedua dipimpin oleh Syekh Maulana al-Malik Ibrahim, yang membawahi delapan wali lainnya, di antaranya Sayidina Imam Quthub Syarif ibn Abdullah Wonobodro, Syaikh Muhammad Sunan Geseng, Sayyid Ibrahim, Sunan Gribig, Amir Rahmatillah Sunan Tembayen, Imam Ali Ahmad Hisamuddin (Cinangka, Banten lama), al-Imam Ahmad Zainul Alam.

Generasi ketiga dipimpin oleh Imam Maulana Ibrahim Samarkandi atau Pandito Ratu (Tuban dan Gresik) yang membawahi delapan sunan, di antaranya: Sunan Ali Al-Murtadlo (Genjang), Wali Lanang (Maulana Ishaq), Imam Ahmad Rahmatillah, Sayid Jalal Tuban, Syekh Datuk Kahfi/Dzatul Kahfi/Sayyid Mahdi Cirebon, Syekh Muhammad Yusuf Parang Tritis Jogja, Syekh Maulana Babullah (Belabenung).

Generasi keempat dipimpin oleh Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel) yang membawahi delapan sunan, di antaranya: Sultan Abdul Fatah (Raden Patah, Raja Demak), Sunan Drajat, Syekh Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syekh Maulana Utsman Haji, Syekh Muhammad ibn Abdurrahman (Sunan Mejagung), Syekh Maulana Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Sayyid Abdul Jalil (Sunan Bagus Jeporo, bukan Syaikh Siti Jenar).

Sementara generasi kelima dipimpin oleh Sunan Bonang, yang membawahi delapan wali, di antaranya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sultan Trenggono, Sunan Zainal Abidin/Qadli Demak, dan Sunan Muria.

Sementara itu, KH. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Pustaka IIMaN & Lesbumi NU, 2016, memasukkan tokoh-tokoh pra-Wali Songo generasi Sunan Ampel, antara lain:

  1. Fatimah binti Maimun,
  2. Syaikh Syamsuddin Al-Wasil,
  3. Sultan Malik Al-Shalih,
  4. Syaikh Maulana Malik Ibrahim,
  5. Syaikh Jumadil Kubra,
  6. Syaikh Ibrahim Samarkandi,
  7. Syaikh Hasanuddin ‘Quro’ Karawang,
  8. Syaikh Datuk Kahfi, dan
  9. Ario Abdillah Palembang.

Pada seri-seri selanjutnya Samudra Fakta akan membahas profil para wali tersebut, dari generasi ke generasi. Jangan sampai terlewat! […bersambung…]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

Pos terkait