Tebuireng hingga Al-Aqsa: Mengingat Kembali Akar Sejarah Hubungan Indonesia dan Palestina

Yang berjalan bersama Bung Karno dan Haji Agus Salim ini adalah dua tokoh Palestina, sahabat sekaligus murid kinasih dari Hadratusyekh KH. Hasyim Asy'ari di Hijaz, yaitu Mufti Muhammad Amin al-Husaini dan Imam Masjidil Aqsa Muhammad Ali Taher. Yang paling belakang KH. Wahid Hasyim. Bung Karno keliling ke Timur Tengah untuk menggalang dukungan atas kemerdekaan bangsa Indonesia -. Dok. Koleksi Pribadi Aguk Irawan MN., diolah ulang menggunakan AI.
Di balik konflik Timur Tengah, Indonesia dan Palestina punya ikatan sejarah mendalam sejak era Mbah Hasyim dan Mufti Amin.

Oleh: Aguk Irawan MN | Pengasuh Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Bantul, DI Yogyakarta

Di tengah eskalasi konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat belakangan ini, nasib satu bangsa kembali menjadi sorotan utama: Palestina. Dunia tahu bahwa Iran tampil sebagai pembela utama Palestina, sementara Israel dan sekutunya berdiri di kutub berseberangan. Tarik-menarik geopolitik ini nyatanya tidak pernah lepas dari garis nasib Palestina.

Pertanyaannya, di mana posisi Indonesia, dan bagaimana sebenarnya akar relasi bangsa kita dengan mereka?

Membuka kembali lipatan sejarah, kita akan menemukan sebuah ta’aruf ruhani antara dua bangsa. Ribuan mil lautan memang memisahkan Nusantara dan Syam, tetapi semangat untuk merdeka dari belenggu kolonialisme pernah menyatukan detak jantung keduanya.

Bacaan Lainnya

Relasi Indonesia dan Palestina bukan sekadar urusan diplomatik di atas kertas atau kebijakan luar negeri. Hubungan ini adalah catatan panjang tentang utang budi, kesetiaan santri, dan gema “proklamasi” yang sudah berkumandang di langit Yerusalem jauh sebelum proklamator mengetik teksnya di Jakarta.

Menyambung Sanad Perjuangan

Buku Al-Allamah Al-Hasyim Asy’ari: Wadli’u Lubnati Istiqlali Indonesia karya Sayyid Asad Syihab merekam sebuah fragmen yang menggetarkan. Buku ini mengungkap hubungan erat antara Mufti Besar Yerusalem, Muhammad Amin al-Husseini, dan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Di bawah teduhnya langit Hijaz masa lalu, perjumpaan ini melampaui batas geografis.

Syaikh Amin al-Husseini, sang penjaga Yerusalem, ternyata menimba kearifan dari Mbah Hasyim. Ini bukan sekadar relasi guru dan murid di atas sajadah, melainkan jalinan spiritual para pejuang. Sang Mufti membawa spirit pesantren ke dalam perlawanan Palestina. Sebaliknya, Mbah Hasyim selalu menyisipkan doa bagi Al-Aqsa dalam setiap sujud panjangnya di Tebuireng.

Suara dari Berlin dan Solidaritas Tanpa Hitung-hitungan

Ikatan batin inilah yang mendorong Mufti Amin mengambil langkah berani. Pada 6 September 1944, suaranya mengudara dan membahana melalui siaran Radio Berlin. Ia tidak hanya menyapa umat Islam global, tetapi secara khusus memanggil “saudara tua”-nya. Sebelum bendera Merah Putih benar-benar berkibar di Pegangsaan Timur, Palestina telah lebih dulu membentangkan pengakuan de facto atas kemerdekaan Indonesia.

Langkah ini sangat mengharukan sekaligus bernilai politis tinggi. Sebuah bangsa yang tengah menderita akibat pendudukan, justru tampil pertama kali naik ke mimbar dunia untuk menyalakan lilin kemerdekaan bagi bangsa lain.

Selain langkah politis Sang Mufti, sejarah juga mencatat pengorbanan sunyi dari seorang saudagar kaya Palestina bernama Muhammad Ali Taher. Nama ini mungkin jarang menghiasi buku teks sejarah di sekolah kita. Namun, Taher membuktikan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal kalkulasi untung-rugi. Ia menyerahkan seluruh simpanannya di Bank Arabia untuk membiayai perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Bagi Taher, kemerdekaan Indonesia adalah kemenangan martabat kemanusiaan. Kedermawanannya mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sebuah bangsa tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Republik ini bisa tegak berkat kegigihan pejuang kita yang dikukuhkan oleh kebaikan masyarakat Palestina, doa-doa dari Gaza, serta lobi-lobi tangguh dari Yerusalem.

Diplomasi Sutra dan Menagih “Utang Peradaban”

Diplomat ulung Haji Agus Salim, sang “The Grand Old Man”, kemudian meneruskan jalinan diplomasi epik ini. Dengan argumen setajam pedang namun lisan selembut sutra, Agus Salim merangkul para tokoh Timur Tengah bukan sebagai peminta-minta, melainkan sebagai kawan sejawat dalam barisan anti-kolonialisme.

Puncaknya terjadi pada tahun 1955. Mufti Amin menginjakkan kaki di Yogyakarta dan memberikan ceramah di Masjid Gedhe Kauman. Lingkaran sejarah seolah tertutup dengan sempurna: Sang Murid datang mengunjungi tanah air Sang Guru untuk merayakan sebuah kemenangan.

Kini, saat layar kaca menampilkan langit Gaza yang terkoyak mesiu, kita seolah sedang menatap cermin masa lalu. Muncul pertanyaan reflektif: Akankah Indonesia terus berdiri tegak di forum internasional untuk memperjuangkan solusi dua negara (two-state solution)? Langkah Indonesia bergabung dengan berbagai aliansi dan blok kerja sama global saat ini seharusnya menjadi panggung strategis untuk membayar “utang peradaban” tersebut.

Palestina adalah bagian tak terpisahkan dari nasab politik dan spiritual Indonesia. Jika pada tahun 1947 mereka proaktif mendorong Mesir untuk mengakui kedaulatan RI, maka hari ini menyuarakan hak mereka yang dibungkam adalah kewajiban moral kita. Sangat disayangkan jika dalam manuver politik dan ekonomi global hari ini, nama dan nasib Palestina justru terpinggirkan dari agenda prioritas kita.

Catatan Penutup

Membentang dari Tebuireng hingga Al-Aqsa, garis cahaya itu tidak pernah putus. Silsilah perlawanan yang bermula dari jabat tangan Mbah Hasyim dan Mufti Amin ini adalah sebuah amanah. Kita harus terus merawat keberpihakan pada keadilan ini hingga fajar kemerdekaan benar-benar menyapa Yerusalem, persis seperti ketika mereka menyambut fajar kemerdekaan kita di tahun 1945. Semoga! ***


Daftar Pustaka
  • Hassan, Zein. (1980). Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri. Jakarta: Bulan Bintang. (Buku yang mencatat detail sejarah pengorbanan Muhammad Ali Taher dan dukungan negara-negara Arab).
  • Syihab, Sayyid Asad. (1994). Al-Allamah Al-Hasyim Asy’ari: Wadli’u Lubnati Istiqlali Indonesia (Maha Guru Hasyim Asy’ari: Peletak Dasar Kemerdekaan Indonesia). Yogyakarta: Titian Ilahi Press.
  • Mansyur, Suryanegara Ahmad. (2009). Api Sejarah. Bandung: Salamadani. (Merujuk pada kiprah ulama Nusantara dan diplomasi Timur Tengah).

Pos terkait