Prof. Srianta mengungkapkan, sebagian besar kasus keracunan pangan dipicu oleh kontaminasi bakteri patogen, seperti Escherichia coli (E. coli), Salmonella, dan Staphylococcus aureus.
Belakangan ini masih muncul kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) bidang Mikrobiologi Pangan, Prof. Dr. Ignatius Srianta, S.TP., M.P., memberikan pandangannya mengenai pentingnya aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.
“Tujuan mengonsumsi makanan adalah memperoleh nutrisi dan manfaat bagi kesehatan. Namun jika tidak aman, makanan justru dapat menyebabkan sakit, bahkan pada kondisi tertentu bisa berakibat fatal,” ujar Prof. Srianta, dikutip Kamis (6/8/2026).
Prof. Srianta mengungkapkan, sebagian besar kasus keracunan pangan dipicu oleh kontaminasi bakteri patogen, seperti Escherichia coli (E. coli), Salmonella, dan Staphylococcus aureus.
Ia menjelaskan, bakteri E. coli umumnya berasal dari air yang tercemar, sedangkan Salmonella banyak ditemukan pada bahan pangan hewani, seperti telur dan daging yang tidak ditangani dengan benar.
Sementara itu, Staphylococcus aureus kerap berasal dari tangan atau tubuh penjamah makanan yang tidak menjaga kebersihan. Karena itu, penerapan sanitasi dan higiene yang baik wajib dilakukan di setiap tahapan, mulai dari proses pengolahan hingga penyajian makanan.
“Standar kebersihan harus diterapkan secara konsisten agar makanan yang disajikan benar-benar aman dikonsumsi,” tegasnya.
Selain memperkuat sanitasi, Prof. Srianta menawarkan pendekatan mikrobiologi pangan melalui teknologi biopreservasi sebagai salah satu solusi meningkatkan keamanan pangan.
Teknologi tersebut memanfaatkan mikroorganisme beserta metabolit alaminya untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit.
“Bakteri asam laktat merupakan mikroorganisme yang banyak dimanfaatkan karena mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Selain berfungsi sebagai pengawet alami, bakteri ini juga bermanfaat bagi kesehatan saluran pencernaan,” jelasnya.





