Survei Insantara menunjukkan tingkat keterpilihan petahana Gus Yahya tertinggal di posisi bawah dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35.
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis hasil survei preferensi kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 yang menyoroti rendahnya dukungan untuk kepengurusan petahana. Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berada di peringkat ketujuh, sementara KH Zulfa Mustofa menempati posisi buncit.
”Pemetaan kandidat dilakukan menggunakan tiga indikator utama, yakni popularitas di kalangan Nahdliyin, rekam jejak kepemimpinan, serta aspirasi pengurus dan warga NU,” tulis keterangan resmi Insantara, Kamis (30/7/2026).
Ihwal pengumpulan data, survei tersebut digelar pada 20–28 Juli 2026 dengan menjaring 11.646 responden. Komposisinya terdiri atas 70 persen warga NU kultural dan 30 persen pengurus wilayah serta cabang, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin kesalahan tiga persen.
Dorongan Regenerasi PBNU
Berdasarkan simulasi semi terbuka terhadap delapan tokoh, posisi puncak dikuasai oleh kandidat baru dengan tingkat elektabilitas mencapai 43,1 persen. Posisi selanjutnya diisi oleh KH Abdul Ghaffar Rozin dengan 16,9 persen, KH Yusuf Chudlori 12,7 persen, dan Prof Nasaruddin Umar 11,5 persen.
Selain itu, KH Abdul Hakim Mahfudz tercatat memperoleh 6,5 persen dukungan dan KH Abdussalam Shohib 5,3 persen. Adapun Gus Yahya hanya meraup 2,6 persen, disusul Zulfa Mustofa di peringkat kedelapan atau terakhir dengan 1,7 persen.
”Hasil tersebut memperlihatkan preferensi responden survei saat ini lebih banyak mengarah kepada figur lain menjelang Muktamar ke-35 NU,” ungkap Insantara merespons minimnya dukungan untuk petahana.
Tren senada juga tecermin dari hasil pemungutan suara daring terbuka yang melibatkan 6.739 partisipan. Dalam jajak pendapat sukarela tersebut, Gus Yahya dan Zulfa Mustofa kembali menempati dua posisi terbawah, masing-masing dengan raihan 2,9 persen dan 1,7 persen.





