Forum Ijtima Ulama Indonesia meminta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang bebas dari praktik transaksional. Perubahan pucuk pimpinan dinilai krusial untuk mengembalikan muruah organisasi.
Wakil Sekretaris Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Maman Imanulhaq menyatakan Ijtima Ulama Indonesia mendorong perombakan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Desakan ini disuarakan menjelang Muktamar ke-35 di Jombang.
”Ijtima Ulama meminta agar Muktamar di Jombang besok betul-betul jauh dari praktik transaksional,” kata Maman usai acara di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan perombakan diperlukan supaya organisasi kembali menjadi lokomotif masyarakat sipil. Pemimpin baru diharap mampu mengawal demokrasi, memberdayakan umat, dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Selain itu, Sekretaris Dewan Syura PKB Saifullah Ma’shum membenarkan bahwa poin utama forum adalah perlunya pergantian pucuk pimpinan. Rekomendasi ini secara khusus ditujukan untuk penyelenggaraan Muktamar pada Agustus mendatang.
”Poinnya bahwa Muktamar nanti harus terjadi perubahan kepemimpinan di PBNU,” ujar Saifullah.
Respons PBNU dan Bursa Pencalonan
Ihwal tindak lanjut rekomendasi, PKB akan memfasilitasinya melalui wadah Majelis Silaturahmi Ulama Rakyat (Masura). Kiai dari berbagai daerah dapat menyampaikan aspirasi maupun kendala umat melalui majelis tersebut.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf telah menyatakan kesiapannya untuk kembali maju. Ia beralasan ingin menuntaskan berbagai program manajemen digital yang dirancang pada masa kepemimpinannya.
”Bagaimana menyempurnakannya sehingga bisa sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga Nahdlatul Ulama,” kata Yahya di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf membeberkan sejumlah nama yang masuk dalam bursa pencalonan. Beberapa di antaranya adalah Nasaruddin Umar dan Zulfa Mustofa.
”Siapapun boleh maju, siapapun bisa ikut dalam pemilihan ketua umum yang akan datang. Saya kira Nahdlatul Ulama tidak kekurangan kader,” tutur Saifullah Yusuf.***





