PBNU menanggapi kasus ratusan santri yang diduga keracunan makan bergizi gratis di Sidoarjo. Evaluasi teknis secara menyeluruh dinilai perlu agar kejadian serupa tak terulang.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menanggapi kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di pondok pesantren. Ia mendesak evaluasi teknis dengan mengedepankan integritas pengelola.
“Kita masing-masing itu harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatannya, bertanggung jawab terhadap aturan-aturan yang diberlakukan di dalam kegiatan masing-masing,” kata Gus Kikin di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Ihwal insiden di beberapa lokasi ini, pihak PBNU menegaskan bahwa aktivitas dan pembelajaran santri harus terus berjalan. Pengawasan terhadap pelaksanaan aturan dari para penanggung jawab di lapangan perlu ditingkatkan.
“Itu kan satu dari sekian banyak. Ya kita harus jalan terus. Karena memang pesantren harus jalan,” ucapnya.
Ratusan Santri di Sidoarjo Terdampak
Sebelumnya, dugaan keracunan usai menyantap porsi MBG terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa, 1 September lalu. Korban terbanyak berasal dari santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kecamatan Tanggulangin.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sidoarjo hingga Jumat sore, 4 September 2026, total santri dan siswa yang menjadi korban dugaan keracunan ini mencapai 748 orang.
Selain itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Mayor Jenderal TNI Trenggono telah turun meninjau langsung penanganan korban. Merespons kejadian tersebut, BGN segera mengambil langkah tegas.
BGN menangguhkan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah di Tanggulangin sejak Rabu, 2 September lalu. Meski begitu, sebagian besar korban telah menyelesaikan perawatan medis dan kembali ke pondok.
“Semua santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Sidoarjo yang menjadi korban dugaan keracunan sudah dalam kondisi pulih dan membaik,” ujar Trenggono.***





