Marwah NU Tercabik Konflik Elite, Robikin Emhas: Kita Malu

Ketua PBNU Masa Khidmat 2015–2020 Robikin Emhas (tengah) menegaskan bahwa Muktamar Nahdlatul Ulama yang akan digelar pada akhir Agustus 2026 tidak boleh dipahami semata sebagai arena pergantian kepemimpinan. (Istimewa)

Mantan Ketua PBNU Robikin Emhas mengingatkan bahwa Muktamar NU pada Agustus 2026 harus menjadi momen evaluasi organisasi, bukan sekadar ajang perebutan kursi akibat konflik elite.


​Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2015–2020, Robikin Emhas, menegaskan Muktamar NU pada akhir Agustus 2026 bukan sekadar arena pergantian kepemimpinan. Forum ini merupakan kesempatan krusial untuk mengevaluasi organisasi.

​”Muktamar adalah kesempatan memperbarui kontrak pengabdian, momentum mengevaluasi perjalanan organisasi, tata kelola, dan juga marwah NU,” kata Robikin dalam Rembug Warga NU Seri 4 di Universitas Indonesia, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

​Ihwal kondisi internal saat ini, Robikin mengingatkan pentingnya segera mengakhiri konflik di tingkat elite. Pertikaian tersebut dinilai telah mencederai kehormatan serta martabat kelembagaan Nahdlatul Ulama di mata publik.

Bacaan Lainnya

​”Marwah NU telah tercabik-cabik hanya karena konflik elite PBNU. Kita semuanya malu. Saya termasuk yang menjadi bagian yang menanggung rasa malu itu sedemikian rupa,” ujarnya dalam acara yang digagas Forum Bersama (Forbes) NU 26 tersebut.

​Fokus Pemberdayaan Umat

​Selain itu, Robikin menyebut kebesaran Nahdlatul Ulama tidak ditentukan oleh panggung yang megah. Pengakuan yang sesungguhnya berasal dari besarnya manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput.

​Dalam diskusi bertajuk “Merawat Jagat, Melupakan Umat?” ini, hadir pula Sekretaris Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Nyai Hj. Masruchah. Ia mengurai narasi peradaban dari perspektif keadilan hakiki dan advokasi kelompok rentan.

​Sebelumnya, Direktur Eksekutif PRAKARSA 2015–2025, Ah Maftuchan, juga mengulas teknokrasi anggaran dan redistribusi sumber daya PBNU. Ia menawarkan Indikator Keberlanjutan Nahdlatul Ulama (NUSI) untuk mengukur dampak nyata dari organisasi.

​Terkait arah masa depan kelembagaan, Robikin kembali menegaskan bahwa peradaban tidak bisa dibangun dengan meninggalkan warga Nahdliyin.

​”Peradaban tidak dibangun dengan meninggalkan umat, melainkan dengan memuliakan umat. Umat yang kuat akan melahirkan peradaban yang bermartabat,” pungkasnya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan