Lagu Hilang Soepratman ‘Ratap Si Parto’ Ditemukan Lagi

Lagu WR Soepratman
Pusara WR Soepratman di Surabaya. - Samudrafakta/Masruroh
Sebuah lagu lama karya sang komponis kebangsaan kembali muncul ke permukaan setelah lebih dari seratus tahun menghilang dari catatan sejarah.

Di tengah riuh peringatan Hari Musik Nasional dan hari kelahiran Wage Soepratman, sebuah kabar menggembirakan datang dari dunia musik Indonesia.

Seolah membuka peti harta karun yang lama terkubur, sebuah lagu lama karya sang komponis kebangsaan kembali muncul ke permukaan setelah lebih dari seratus tahun menghilang dari catatan sejarah.

Lagu itu berjudul Ratap Si Parto.

Bacaan Lainnya

Lagu tersebut dibawakan secara khusus dalam acara peringatan yang digelar di makam Soepratman di Surabaya, Senin (9/3/2026) kemarin. Momentum ini menjadi simbol penghormatan terhadap sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sekaligus memperkenalkan karya lain yang selama ini tersembunyi dalam arsip sejarah.

Karya ini diyakini diciptakan Soepratman sekitar era 1920-an, untuk pertunjukan toneel atau sandiwara panggung yang populer pada masa Hindia Belanda.

Awal Penemuan Kembali

Penemuan lagu tersebut berawal dari penelusuran arsip yang dilakukan pustakawan Khusnul Khatimah di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Dalam penelusuran itu ditemukan kembali partitur lagu yang lama tak diketahui keberadaannya. Temuan ini segera menarik perhatian para peneliti musik dan pecinta sejarah kebudayaan Indonesia.

Ratap Si Parto berbeda dari karya Soepratman yang dikenal luas, seperti Indonesia Raya. Jika lagu kebangsaan itu sarat semangat perjuangan, Ratap Si Parto justru menghadirkan sisi yang lebih lirih dan manusiawi.

Kisah dalam Lagu

Lagu ini berkisah tentang Parto, seorang bocah yang meratap karena merindukan ibunya yang telah meninggal.

Dalam ratapan itu terselip harapan polos seorang anak yang ingin bertemu kembali dengan ibunya, meski pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa harapan itu rapuh.

Para peneliti menduga Soepratman terinspirasi oleh lagu populer dunia saat itu, I’m Forever Blowing Bubbles (1919), yang dikenal dengan nuansa melankolis tentang mimpi dan harapan yang mudah pecah seperti gelembung. Sentuhan emosi yang serupa terasa dalam “Ratap Si Parto”.

Pos terkait