Patahan aktif baru disebut melintasi Surabaya dan viral di media sosial. Namun, klaim yang telah ditonton ratusan ribu kali itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa patahan tersebut aktif.
Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo MSi meminta masyarakat tidak panik dan mengingatkan agar informasi kebencanaan yang beredar terlebih dahulu diverifikasi secara ilmiah.
Isu tersebut mencuat setelah sebuah akun Instagram mengunggah video yang menyebut adanya patahan aktif baru di Surabaya. Video yang diunggah tujuh hari lalu itu telah ditonton sekitar 476 ribu kali, mendapat 15,1 ribu tanda suka, dan memicu lebih dari 1.000 komentar.
Dalam keterangannya, akun tersebut menyebut patahan aktif melintasi sejumlah wilayah di Surabaya.
Amien menjelaskan, keberadaan struktur patahan di wilayah Surabaya bukan informasi baru. ITS bersama Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai peta patahan di Jawa Timur yang dipublikasikan pada 2024.
Dua struktur patahan yang teridentifikasi dalam penelitian tersebut adalah Patahan Surabaya dan Patahan Waru.
“Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan yaitu patahan Surabaya dan patahan Waru,” kata Amien, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, kedua struktur tersebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Hasil penelitian itu juga sejalan dengan peta patahan Indonesia yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2024.
Namun, Amien menekankan adanya perbedaan penting antara patahan dan patahan aktif.
“Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keberadaan sebuah patahan tidak otomatis membuktikan bahwa patahan tersebut masih aktif. Penetapan status aktif membutuhkan penelitian dan bukti ilmiah lebih lanjut.
“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” tutur Amien.
Pemerintah Tetap Perlu Siaga
Meski meminta masyarakat tidak panik, Amien menilai potensi gempa tetap perlu diantisipasi. Pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Surabaya, perlu memperkuat upaya pemantauan dan mitigasi bencana.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memasang alat untuk mendeteksi kemungkinan pergerakan atau pergeseran tanah. Data pemantauan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memahami kondisi geologi wilayah secara berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah perlu memiliki peta kawasan rawan gempa sebagai dasar perencanaan pembangunan.
Pembangunan di kawasan yang memiliki potensi risiko gempa juga perlu memperhatikan standar konstruksi tahan gempa. Dengan demikian, apabila terjadi gempa, potensi kerusakan bangunan dan korban dapat ditekan.
Bagi Amien, informasi mengenai patahan semestinya tidak berhenti pada kekhawatiran masyarakat. Isu tersebut justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan literasi kebencanaan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat.***





