Gunung Ili Lewotolok Erupsi Beruntun, Aliran Lava Mengarah ke Jontona

Gunung Api Ili Lewotolok mengeluarkan lava pada Rabu (9/9/2026) malam waktu WITA. -- Dok Magma ESDM

Gunung Api Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi beruntun pada Kamis, 10 September 2026. Dalam rentang kurang dari satu jam, gunung tersebut tercatat mengalami sedikitnya empat kali erupsi.

Di tengah gejolak aktivitas vulkanik tersebut, aliran lava diketahui bergerak ke arah timur tenggara dan berpotensi mengarah ke wilayah Desa Jontona. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Andris Koban, mengatakan jarak aliran lava saat ini telah mencapai sekitar 1.800 meter dari puncak Gunung Ili Lewotolok.

“Aliran lava saat ini lebih mengarah ke timur tenggara dan berisiko terhadap Desa Jontona. Jarak aliran lava sudah mencapai sekitar 1.800 meter dari puncak dengan arah menuju Desa Jontona,” ujar Andris seperti dilansir TVRINews, Kamis (10/9/2026).

Meski aktivitas erupsi terus berlangsung, pemerintah daerah belum melakukan evakuasi warga. Status Gunung Api IliLewotolok masih berada pada Level II atau Waspada berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Bacaan Lainnya

“Belum ada evakuasi karena status Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II atau Waspada. Namun, BPBD terus melakukan penyampaian informasi peringatan dini, sosialisasi mengenai dampak erupsi, serta memperkuat rantai komando dan jaringan informasi hingga tingkat desa,” kata Andris.

19.998 Warga Terdampak

Aktivitas erupsi Gunung Ili Lewotolok berdampak terhadap 5.816 kepala keluarga atau sekitar 19.998 jiwa yang tersebar di 26 desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur. Warga terdampak antara lain menghadapi paparan abu vulkanik, potensi gangguan kesehatan, keterbatasan air bersih, serta terganggunya lahan pertanian dan ketersediaan pakan ternak.

BPBD Lembata telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan perangkat desa di 26 desa terdampak. Pendataan kelompok rentan juga dilakukan sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan peningkatan aktivitas gunung.

Kelompok rentan yang menjadi perhatian meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, lanjut usia, serta penyandang disabilitas. “Kelompok rentan menjadi perhatian utama dalam persiapan penanganan darurat. Kami melakukan pendataan dan menyiapkan respons apabila sewaktu-waktu diperlukan pengungsian mandiri,” ujar Andris.

BPBD juga memperkuat koordinasi dengan sektor kesehatan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pemerintah Kabupaten Lembata telah mengajukan bantuan masker, penutup kepala, dan air bersih kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak swasta untuk dukungan air bersih serta membangun komunikasi intensif dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bali-Nusa Tenggara dan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok,” kata Andris.

Empat Kali Erupsi, Status Masih Level II

Berdasarkan pemantauan PVMBG, Gunung Api Ili Lewotolok mengalami sedikitnya empat kali erupsi pada Kamis, 10 September 2026. Erupsi pertama terjadi pukul 10.38 WITA. Kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat.

Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung sekitar satu menit. Erupsi kedua terjadi pukul 10.49 WITA. Kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 1.823 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat.

Erupsi kedua terekam dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung sekitar 45 detik. Selanjutnya, erupsi ketiga terjadi pukul 11.04 WITA. Kolom abu kembali mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat.

Erupsi ketiga terekam dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung sekitar satu menit lima detik. “Erupsi disertai lontaran material pijar dan dentuman sedang. Material pijar teramati mengarah ke sektor tenggara dengan jarak sekitar 100 meter dari bibir kawah,” kata Petugas Pemantau Gunung Api Ili Lewotolok, Stanis Arakian Lamahoda.

Erupsi keempat terjadi pukul 11.24 WITA. Kolom abu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau 2.023 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung sekitar satu menit satu detik.

Stanis mengatakan aktivitas erupsi Gunung Ili Lewotolok masih cukup intens. Namun, berdasarkan perkembangan pemantauan, kondisi tersebut belum menunjukkan ancaman langsung terhadap permukiman warga.

“Erupsi masih terjadi, tetapi dampaknya sejauh ini lebih dominan berupa abu vulkanik. Karena itu, belum ada evaluasi untuk menaikkan status gunung. Aktivitas kegempaan juga masih didominasi gempa permukaan sehingga statusnya tetap Level II atau Waspada,” ujarnya.

Menurut Stanis, kondisi aliran lava juga secara bertahap mulai lebih kondusif.

Warga Diminta Jauhi Radius Bahaya

PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi rekomendasi keselamatan selama aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok masih berlangsung. Masyarakat di sekitar gunung, termasuk pengunjung, pendaki, dan wisatawan, diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 hingga 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara dari pusat aktivitas gunung.

PVMBG juga mengingatkan potensi guguran, longsoran lava, serta awan panas yang dapat mengancam sejumlah sektor di sekitar gunung. Masyarakat disarankan menggunakan masker pelindung hidung dan mulut serta perlengkapan pelindung mata dan kulit untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik.

Warga juga diminta menutup tempat penampungan air bersih untuk mencegah kontaminasi abu vulkanik. Pemerintah Kabupaten Lembata bersama BPBD dan unsur terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Api Ili Lewotolok. Kesiapsiagaan diperkuat agar masyarakat dapat segera merespons apabila terjadi perubahan status maupun peningkatan ancaman erupsi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan