Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan tiga gempa bumi kuat yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, Simalungun, dan Parigi Moutong pada Sabtu (15/8/2026), terjadi akibat sistem tektonik yang berbeda.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa tiga peristiwa gempa kuat tersebut tidak memiliki korelasi mekanis secara langsung satu sama lain. Ketiganya bersumber dari tatanan tektonik yang sepenuhnya independen meskipun terjadi dalam kurun waktu yang berdekatan.
”Tidak ada korelasi langsung. Ketiga gempa yaitu NTT magnitudo 7,7 akibat Sesar Back Arc Thrust Flores, Simalungun magnitudo 6,4 akibat Subduksi Lempeng Indo-Australia, dan Parigi Moutong magnitudo 5,9 akibat Deformasi Dalam Lempeng Laut Sulawesi terjadi di tiga sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. Secara mekanis tidak saling memicu,” ujar Wijayanto kepada wartawan, Ahad (16/8/2026).
Karakteristik dan Sumber Gempa Berbeda
Masing-masing gempa memiliki kedalaman, mekanisme patahan, serta karakteristik pelepasan energi yang spesifik. Gempa Nusa Tenggara Timur berkekuatan magnitudo 7,7 tercatat sebagai gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Flores dengan mekanisme naik.
Sementara itu, gempa Simalungun bermagnitudo 6,4 merupakan gempa berkedalaman menengah yang bersumber dari subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Adapun gempa Parigi Moutong magnitudo 5,9 terjadi pada kedalaman menengah sekitar 60 kilometer akibat deformasi kompresi intraplate di Teluk Tomini dengan mekanisme sesar naik mendatar.
Klasterisasi Seismik di Wilayah Indonesia
Wijayanto menambahkan, perbedaan aktivitas susulan atau gempa ikutan kian mempertegas independensi dari masing-masing peristiwa tersebut. Gempa Nusa Tenggara Timur mencatatkan banyak aktivitas susulan, sedangkan gempa Simalungun dan Parigi Moutong tidak merekam aktivitas susulan hingga saat ini.





