Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat layanan Command Center 112 untuk mempercepat penanganan laporan masyarakat. Layanan yang dibentuk pada 26 Juli 2016 itu kini menargetkan waktu respons maksimal tujuh menit.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan Command Center 112 dibangun untuk mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Setiap laporan yang masuk akan melalui proses asesmen sebelum diteruskan kepada perangkat daerah (PD) dan petugas lapangan sesuai kebutuhan.
“Filosofinya sederhana, ketika warga membutuhkan bantuan, kami harus bisa merespons secepat mungkin sehingga warga merasa terlayani dengan baik,” kata Irvan, Jumat (11/9/2026).
Command Center 112 menangani berbagai laporan masyarakat, mulai dari kegawatdaruratan medis, kebakaran, bencana, gangguan ketenteraman dan ketertiban, hingga persoalan lingkungan.
Respons Command Center 112 Ditargetkan 7 Menit
Irvan mengatakan Pemkot Surabaya terus meningkatkan standar waktu respons Command Center 112. Pada awal pembentukannya, target waktu respons ditetapkan selama 10 menit.
Kini, target tersebut dipangkas menjadi maksimal tujuh menit. Khusus penanganan kebakaran, waktu respons ditargetkan sekitar 6,5 menit.
Kecepatan tersebut didukung sistem yang menghubungkan sembilan perangkat daerah, pos terpadu, tenaga medis, hingga rumah sakit.
Untuk memperpendek jarak antara lokasi kejadian dan petugas, jumlah pos terpadu juga ditambah dari sebelumnya tujuh menjadi 10 pos. Pemkot Surabaya menargetkan jumlah tersebut kembali bertambah menjadi 13 pos.
“Surabaya ini kota besar, ketika beberapa kejadian terjadi bersamaan, kami harus mengatur skala prioritas, melihat lokasi kejadian, dan menentukan pos terpadu yang paling dekat agar waktu respons tetap bisa dicapai,” ujarnya.
Perkuat Penanganan Kegawatdaruratan Medis
Pemkot Surabaya juga memperkuat layanan Command Center 112 untuk menangani kegawatdaruratan medis.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menyiapkan dukungan ambulans dari puskesmas untuk memperkuat respons ketika kebutuhan penanganan terjadi secara bersamaan di sejumlah lokasi.
Pemkot juga membangun komunikasi dengan rumah sakit di Kota Surabaya. Langkah tersebut dilakukan agar pasien dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan yang paling dekat dan memiliki kapasitas untuk memberikan penanganan.
“Komunikasi dengan rumah sakit di Kota Surabaya juga terus dibangun agar pasien dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan yang paling dekat dan memungkinkan menerima penanganan,” ungkap Irvan.
Tak Hanya Menangani Keadaan Darurat
Command Center 112 tidak hanya digunakan untuk laporan kondisi darurat.
Layanan tersebut juga menjadi pintu masuk bagi berbagai persoalan warga yang membutuhkan keterlibatan pemerintah. Di antaranya gangguan ketenteraman dan ketertiban, persoalan lingkungan, serta laporan lain yang menjadi kewenangan perangkat daerah.
Pemkot Surabaya menyediakan kanal WhatsApp 081131112112 untuk memperluas akses masyarakat. Warga dapat menyampaikan laporan sekaligus mengirimkan foto dan titik lokasi kejadian.
Informasi tersebut menjadi data awal bagi petugas untuk melakukan asesmen dan menentukan bentuk penanganan.
“Ketika warga menghubungi 112, artinya mereka membutuhkan bantuan. Selanjutnya kami melakukan asesmen dan menentukan bentuk penanganan yang sesuai,” kata Irvan.
Ia menegaskan pelayanan tetap diberikan kepada masyarakat, termasuk warga di kawasan perbatasan yang masih berada dalam jangkauan layanan.
“Kemanusiaan di atas segalanya. Jadi, jangan ragu menghubungi 112 ketika membutuhkan bantuan. Kami memastikan setiap laporan akan kami upayakan untuk dilayani dan ditindaklanjuti,” tegasnya.
Hampir 4.000 CCTV Dukung Command Center 112
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Surabaya Linda Novanti mengatakan teknologi menjadi bagian penting dalam sistem pemantauan Command Center 112.
Salah satunya melalui pemanfaatan kamera CCTV. Teknologi tersebut memungkinkan petugas melihat kondisi di lapangan sebelum menentukan langkah penanganan.
Saat ini terdapat hampir 4.000 titik CCTV yang tersebar di Kota Surabaya. Dari jumlah tersebut, 222 titik dipantau secara langsung melalui ruang CCTV Command Center 112.
Sementara itu, kamera di lokasi lain dapat diakses ketika terdapat kejadian yang membutuhkan pemantauan.
“CCTV sangat membantu, terutama untuk kejadian yang membutuhkan respons cepat dan informasi yang akurat. Ketika ada laporan, kami bisa melihat titik terdekat untuk membantu memastikan kondisi di lapangan,” jelas Linda.
Laporan Warga Tetap Diverifikasi
Menurut Linda, keberadaan CCTV membantu petugas melakukan verifikasi terhadap laporan masyarakat sehingga penanganan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Bahkan ketika informasi yang disampaikan warga ternyata tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, petugas tetap melakukan pengecekan.
Linda menyebut laporan yang setelah diverifikasi ternyata tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya relatif kecil, yakni kurang dari lima persen.
Meski demikian, setiap laporan tetap perlu diperiksa. Langkah tersebut dilakukan agar warga yang benar-benar membutuhkan pertolongan tidak terlewat.
“Laporan tidak dapat begitu saja diabaikan hanya karena dicurigai sebagai laporan palsu. Setiap informasi tetap perlu diverifikasi agar tidak terjadi kesalahan yang justru merugikan warga yang benar-benar membutuhkan pertolongan,” tukasnya.
Penguatan Command Center 112 menunjukkan bahwa layanan kegawatdaruratan di Surabaya tidak hanya mengandalkan kecepatan petugas, tetapi juga koordinasi antarperangkat daerah, kedekatan pos terpadu, dukungan fasilitas kesehatan, serta teknologi pemantauan untuk memastikan laporan warga dapat segera ditindaklanjuti.***





