Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau menampilkan semburan magma merah menyerupai air mancur. Fenomena ini terjadi ketika tekanan gas mendorong lava cair keluar dari kawah.
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava, disertai suara gemuruh.
Dilansir dari berbagai sumber, Badan Geologi mengungkapkan erupsi tersebut menghasilkan semburan berwarna merah menyala yang terlihat terus menerus dan kemudian membentuk aliran lava.
Fenomena tersebut menarik perhatian karena tampilannya berbeda dari gambaran erupsi yang identik dengan kolom abu tinggi.
Pada lava fountain, material magma terdorong ke udara dalam bentuk semburan cair pijar yang menyerupai air mancur, sehingga warna merah dari lava dapat terlihat jelas selama aktivitas berlangsung.
Fenomena Umum dalam Aktivitas Vulkanik
Badan Geologi menjelaskan bahwa erupsi menerus selama beberapa jam yang berkaitan dengan lava fountain merupakan fenomena yang umum terjadi.
Dalam kasus Anak Krakatau, aktivitas tersebut juga disertai gemuruh dan getaran yang dirasakan warga di sekitar wilayah Selat Sunda.
Lava fountain merupakan fenomena vulkanik ketika lava menyembur keluar dari lubang erupsi secara terus menerus hingga menyerupai air mancur.
Badan Geologi menjelaskan bahwa lava air mancur dapat menghasilkan aliran lava, terutama ketika erupsi berlangsung dalam durasi yang cukup panjang.
“Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau erupsi menerus, berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga saat laporan ini dibuat. Kondisi erupsi seperti ini diinterpretasikan sebagai Lava Fontain atau lava air mancur,” sebut Badan Geologi dalam keterangan dikutip Minggu (6/9/2026).
Dikenal sebagai Aktivitas Eksplosif Hawaii
Fenomena tersebut juga dikenal sebagai salah satu bentuk aktivitas eksplosif Hawaii.
Penamaan itu merujuk pada tipe letusan yang banyak diamati di Gunung Kīlauea, Hawaii, meski aktivitas lava fountain juga dapat terjadi di pusat vulkanik basaltik lain, termasuk Gunung Etna di Sisilia.
Tekanan Gas Mendorong Magma ke Udara
Lava fountain terjadi ketika gas yang terkandung di dalam magma tidak dapat keluar dengan cukup cepat saat magma bergerak menuju permukaan.
Tekanan dari gas tersebut kemudian mendorong campuran magma dan gas keluar melalui lubang erupsi hingga menghasilkan semburan lava ke udara.
Proses tersebut membuat lava terlihat seperti air mancur karena material cair pijar terus terdorong keluar dari kawah. Setelah kehilangan momentum, material kemudian kembali jatuh ke sekitar pusat erupsi dan dapat membentuk aliran lava di permukaan.
Fenomena ini sering berkaitan dengan lava basaltik yang memiliki kekentalan relatif lebih rendah.
Karakter tersebut memungkinkan magma bergerak lebih cair saat keluar ke permukaan, sehingga bentuk erupsinya dapat menghasilkan semburan yang berlangsung secara terus menerus.
Dapat Berlangsung Selama Beberapa Jam
Kemunculan lava fountain pada Anak Krakatau bukan berarti fenomena tersebut hanya terjadi di Indonesia.
Aktivitas serupa dikenal pada sejumlah gunung api basaltik lain di dunia dan dapat berlangsung selama beberapa jam ketika suplai magma dan gas dari bawah permukaan terus berlanjut.
Karakter utama yang membedakannya adalah semburan lava cair yang terlihat jelas, bukan sekadar pelepasan abu atau gas.
Warna merah menyala yang terus muncul selama erupsi menjadi salah satu ciri visual paling mudah dikenali ketika lava pijar terdorong keluar dari kawah.
Pola Erupsi Anak Krakatau
Dalam erupsi Anak Krakatau kali ini, Badan Geologi menilai pola tersebut menyerupai lava fountain karena semburan merah terlihat secara terus menerus dan menghasilkan aliran lava.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana tekanan gas di dalam magma dapat membentuk karakter erupsi yang berbeda dari letusan dengan dominasi kolom abu. ***




