Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menargetkan layanan air bersih dapat dinikmati seluruh warga di setiap wilayah Kota Pahlawan.
Untuk mempercepat pencapaian target tersebut, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta jajaran Direksi Perumda Air Minum (PAM) Surya Sembada periode 2026–2029 menggandeng investor dalam pembangunan jaringan distribusi air.
Menurut Eri, kerja sama dengan pihak ketiga menjadi langkah strategis agar pembangunan infrastruktur dapat dipercepat tanpa membebani kondisi keuangan perusahaan daerah.
“Uang PDAM juga harus ada yang bisa diputar untuk orang miskin. Yang kedua, njenengan harus bisa bagaimana dengan pihak ketiga kalau bisa menggerakkan, tapi tidak banyak mengeluarkan uang. Uang kita bisa buat orang miskin, tapi kita juga bisa membayar dalam jangka waktu beberapa tahun,” kata Eri, Kamis (6/8/2026).
Investor Dinilai Percepat Pemerataan Air Bersih
Eri menilai pemerataan layanan air bersih di seluruh wilayah Surabaya sulit diwujudkan apabila hanya mengandalkan kemampuan investasi internal PAM Surya Sembada.
Karena itu, ia meminta direksi baru membuka peluang kolaborasi dengan investor agar pembangunan jaringan perpipaan dapat dilakukan lebih cepat.
“Kalau ingin wilayah Surabaya keluar air semua, ketika tidak bekerja sama dengan pihak ketiga maka itu tidak mungkin. Kalau hanya membangun proyek sendiri, wilayah Surabaya utara misalnya, airnya tidak akan segera mengalir,” tegasnya.
Menurutnya, skema investasi memungkinkan pembangunan infrastruktur dilakukan lebih dahulu, sementara pembayaran kepada investor dapat dilakukan secara bertahap setelah layanan mulai beroperasi.
“Kalau melibatkan pihak ketiga, ada investor yang masuk, setelah itu air jalan, baru kita cicil. Itu bagus,” ujarnya.
Direksi Diminta Tidak Hanya Mengejar Dividen
Meski mendorong kerja sama investasi, Eri mengingatkan agar jajaran direksi tidak hanya berorientasi pada peningkatan dividen perusahaan.
Ia meminta seluruh perhitungan bisnis mempertimbangkan kemampuan perusahaan membayar investasi sekaligus menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Terkait investor jangan pernah berhitung hanya dengan dividen. Harus dihitung apakah perusahaan mampu membayar cicilan tanpa mengganggu pelayanan. Jangan sampai keluar kantong kanan, keluar kantong kiri,” pesannya.





